Sangelink — Kisah Nyata Bercinta Dengan Janda Anak Satu Cerita Mesum. Langit Kota Bandung masih cerah saat aku, Andi, duduk santai di terminal bis. Pukul 2 siang, matahari lumayan terik, tapi aku malah sibuk membolak-balik tabloid olahraga kesayanganku. Bis ke Jogja baru berangkat dua jam lagi, jadi aku punya banyak waktu. “Aduh, Dek, hati-hati!” teriak seorang ibu saat seorang anak kecil tiba-tiba jatuh persis di depanku. Refleks, tanganku langsung meraih si gadis kecil itu, membantunya berdiri. Dia tersenyum polos, lalu lari lagi ke arah mamanya. “Makasih ya, Dik. Anak kecil, kerjaannya lari-lari mulu,” kata sang ibu sambil tersenyum manis, senyum yang bikin aku beku di tempat. Wanita ini, yang kemudian aku tahu namanya Titin, umurnya mungkin udah mau kepala tiga, tapi sumpah, auranya itu kayak gadis muda yang lagi ranum-ranumnya. Badan semoknya itu loh, dada 34B yang penuh, pantat bahenol, dan pinggul yang seksi bikin aku terpana. Mataku gak bisa lepas dari dia. “Maaf, boleh aku duduk di sini?” suaranya lembut, dengan logat Sunda yang khas, memecah lamunanku. Aku gelagapan. “S-silakan, Mbak,” jawabku sambil menggeser pantatku di bangku tunggu. Jantungku udah dag-dig-dug gak karuan. Aku coba beranikan diri. “Mbak mau ke mana?” Dia senyum lagi, “Aku teh mau ke Jogja. Biasa, beli barang-barang buat dagang.” Dia menunjuk si anak kecil yang lagi main. “Ini Yeyen kok, anak aku.” “Sama, aku juga ke Jogja, Mbak. Aku Andi.” Aku mengulurkan tangan, dan dia menyambutnya dengan hangat. Tangan kami bersentuhan, terasa begitu lembut. “Kalau gitu aku panggilnya Mas aja, ya. Lebih enak kedengarannya,” katanya. Obrolan kami mengalir begitu saja. Ternyata Yeyen adalah anaknya, dan Titin itu janda muda. Suaminya meninggal dua tahun lalu. Sejak itu, dia berjuang hidup dengan jualan pakaian dan perhiasan yang dia beli dari Jogja. Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Bis kami pun datang, dan kebetulan, kursi kami sebelahan. Pukul 4.30 sore, bis meninggalkan terminal. Kami bertiga duduk di kursi urutan keempat, jauh dari keramaian penumpang lain. Aku sengaja memangku Yeyen, biar dia makin nyaman sama aku, dan Titin makin respek. Sepanjang jalan, kami terus ngobrol, sampai akhirnya semua penumpang terlelap. Pukul 11 malam, suasana bis hening. Hanya ada kami berdua yang masih melek. “Eh, Mas, boleh nanya gak, sih?” Titin memulai dengan nada genit. “Kenapa dari tadi liatin aku terus?” Jantungku jedak-jeduk. “Hahaha… habisnya Mbak Titin seksi banget, sih.” “Ah, bisa aja,” dia menepuk pahaku. “Omong-omong, kalo aku lagi pengen ‘gituan’, aku gak ada yang nemenin. Udah dua tahun sendiri, nih.” “Lha, apa-apaan!” dia mencubit pinggangku, tapi kali ini terasa lebih mesra. Tiba-tiba Yeyen yang tidur di pangkuanku nyaris jatuh. Refleks, tanganku menahannya dan tak sengaja menyentuh tangan Titin. Tatapan kami bertemu, dan entah kenapa, momen itu terasa begitu lama. Aku menghela napas, memberanikan diri. “Hmm.. Mbak,” aku memulai, “aku juga penasaran… gimana kalo ada mas-mas yang mau nemenin?” Titin menyandarkan kepalanya di bahuku. “Nanti juga ada, Mas. Tapi aku gak yakin ada yang mau sama janda beranak satu kayak aku.” “Masa?” aku mendekatkan wajahku. “Mbak Titin seksi kayak gini, siapa yang gak mau?” Tanganku meremas lembut payudara besarnya. Titin mendesah pelan. “Ssst… Mas… nanti Yeyen bangun.” Aku tahu, posisi kami nanggung. Yeyen tidur di antara kami, jadi gerakanku terbatas. Tapi aku gak bisa menahan diri lagi. Perlahan, aku mencium bibir Titin, melumatnya lembut. Dia membalasnya. Ssshhh… ahhh… mas… erangnya saat lidahku mulai memasuki mulutnya. Tanganku meremas payudara montoknya. Enak… rengeknya. Pagutan dan remasan berlangsung selama dua puluh menit, sampai akhirnya Yeyen terbangun. “Mama, ngapain sama Om Andi?” Kami langsung berhenti. Semuanya jadi nanggung. “Mas nginep di mana nanti?” tanya Titin sambil tersenyum. “Hotel, Mbak. Kenapa?” “Mas mau nemenin kami?” “Boleh, sekalian aku temenin belanja, biar gampang. Cari hotelnya di sekitar Malioboro aja.” Pukul 7 pagi, kami tiba di Terminal Giwangan, Jogja. Kami melanjutkan perjalanan naik bis kota, dan sampai di Malioboro setengah jam kemudian. Setelah muter-muter, kami dapat hotel dengan kamar standar dan double bed. “Yeyen, mau mandi atau langsung bobo, sayang?” tanya Titin pada anaknya. “Mandi aja, Ma. Om Andi nginep bareng kita, ya?” Yeyen bertanya padaku. “Iya, biar Mama ada temen ngobrolnya,” sahut Titin. Sambil ngajak Yeyen ke kamar mandi, Titin melepas bajunya, hanya melilitkan handuk di tubuhnya. Pintu kamar mandi dibiarkan terbuka. Dia sengaja memancingku. Pemandangan pantatnya yang dibalut celana dalam hitam itu bikin aku tegang. Setelah Yeyen selesai mandi, aku pun masuk. Aku melepas semua pakaianku dan mulai mengurut-urut penisku yang sudah tegang. Saat lagi asyik, Titin tiba-tiba masuk kamar mandi. “Udah gak sabar, ya?” godanya. Aku kaget bukan kepalang. Dia melihat penisku yang sudah tegang. Tanpa sungkan, dia melepas handuknya. Payudaranya yang montok terekspos. “Jangan panggil Mbak, dong. Titin aja,” rengeknya manja, lalu melumat bibirku. Tangannya dengan lembut mengelus-elus kemaluanku yang semakin ‘on fire’. Aku membalas lumatan Titin dengan ganas. Jilatan erotis Titin turun ke leher, perut, sampai ke batangnya. “Pengalaman dia ini,” pikirku. Jilatan Titin diselingi dengan sedotan dan kuluman pada penisku. “Ohhh… Titin… nikmat… terus… isep,” desahku. Lima belas menit berlalu. Aku merasa ada sesuatu yang akan keluar. “Aku… keluar!” erangku, dan spermaku menyemprot ke dalam mulut Titin. Dia menelan semuanya, lalu tersenyum puas. Setelah itu, aku menarik Titin berdiri. Kami berpelukan erat. Aku melumat bibirnya sambil meremas pantatnya yang padat. Titin membalasnya. Tangannya menggenggam penisku yang masih layu, mengurutnya hingga kembali tegang. Aku mulai mengecup leher, lalu merambat ke payudara. Lanjut Bab 2: Kisah Nyata Bercinta Dengan Janda Anak Satu Cerita Mesum Chapter dua “Oohhh… Ndi… ahkhh,” erangnya saat mulutku mulai bermain di putingnya yang tegang. Perlahan aku mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di atas bak mandi, membuka lebar pahanya. Aku berlutut, menjilati perut Titin, membuatnya menggeliat. Lidahku merambat ke bibir vaginanya. Aku menjilati sambil menusuk-nusuknya, membuat Titin mengerang histeris. “Ndi… sudah… Ndi… masukin punyamu… aku sudah gak tahan… ayo, sayang,” pintanya dengan napas memburu. Aku berdiri, menggesek-gesekkan penisku yang sudah mengeras di bibir vaginanya. “Masukin… aku gak tahan…” Perlahan tapi pasti, penisku yang berukuran 17 cm kumasukkan. “Pelan dong, Sayang… sudah dua tahun aku gak main,” pintanya sambil memejamkan mata. Aku membiarkan penisku tertanam. Setelah Titin tenang, aku mulai mengocoknya. Aku memompa dengan formasi 10:1, sepuluh gerakan menusuk setengah, satu gerakan full hingga menyentuh rahimnya. Aku juga memutar pantatku, membuat Titin mendesis dan mengeluarkan kata-kata kotor yang membangkitkan gairahku. “Kontolmu enak, Say… entot Titin terus… nikmat,” rintihnya, mengimbangi gerakanku. Tiga puluh menit berlalu. Titin sepertinya akan mencapai orgasme pertama. Tangannya mencengkeram punggungku, meminta sodokan yang lebih dalam. Dia mengangkat pinggulnya, menggeliat hebat, sementara aku semakin cepat menghujamkan penisku. “Oouhhh… aahhhh… hhh…,” erangnya saat puncak kenikmatan itu dia dapatkan. Aku membiarkan Titin menikmati orgasmenya. Setelah itu, kubopong tubuhnya dan kusandarkan di dinding kamar mandi. Aku menciumi tengkuknya, lalu membelai paha mulusnya. Tanganku meremas kemaluannya dari belakang, membuat nafsu birahinya bangkit lagi. Aku jongkok di belakang Titin, mendekatkan wajahku ke pantatnya. Mengecup dan menjilati belahan pantat seksi itu, sampai akhirnya aku menjulurkan lidahku ke lubang anusnya. Titin terkejut. “Ouhh… akhh… sstt… jorok, Say… apa yang kamu lakukan… jilat memek Titin aja,” celotehnya. Sepuluh menit berlalu. Aku berdiri, menggosok-gosokkan penisku yang tegang di sekitar anusnya. “Ouh… sakittt… Say… jangan di situ… Titin belum pernah, Say,” rengeknya. Perlahan penisku menerobos anusnya. Setelah masuk sepenuhnya, aku diamkan sejenak. Tanganku meremas payudaranya, menciumi lehernya. “Nikmat… Say,” hanya itu yang keluar dari mulut Titin. Aku mulai memaju-mundurkan penisku perlahan. Setelah beberapa gerakan, rasa sakitnya berubah jadi nikmat. Titin mulai mengimbangi gerakanku, sambil tangan kananku mengobok-obok vaginanya. “Aahhh… ooohhh… luar biasa, Say… nikmat,” desahnya. Tiga puluh menit berlalu. Aku menarik penisku dan mengarahkannya ke vagina Titin. Dua puluh menit kemudian, aku merasa akan keluar. Aku mempercepat sodokanku. Titin juga sepertinya akan mencapai orgasme kedua. Diiringi lenguhan panjang kami, cairan hangat dari penisku dan vaginanya bertemu. Nikmatnya tiada tara, sensasinya tiada duanya. Aku menarik penisku, mendekatkannya ke mulut Titin. Dia menjilatinya hingga bersih. “Gak nyangka, Mas sehebat ini… baru kali ini aku merasa sepuas ini. Badan kecil tapi tenaganya luar biasa. Aku mau, Mas… aku mau kamu,” puji Titin dengan wajah penuh kepuasan. Kami membersihkan diri, sambil saling meremas. Yeyen masih tidur. Setelah Yeyen bangun, kami jalan-jalan di Malioboro. Pukul 9 malam, kami kembali ke hotel. Titin memandikan Yeyen, lalu mandi juga. Saat keluar, dia melepas handuknya, lalu memakai daster tipis. Aku mendekat, mengecup bibirnya. “Mas, mandi dulu, gih,” katanya, tapi membalas ciumanku. “Ih, Mama sama Om Andi ngapain?” protes Yeyen. Setelah aku mandi, kulihat Titin sedang menidurkan Yeyen. Keduanya tampak kelelahan. Aku pun membiarkan Titin tidur. Aku tidak mengantuk, jadi aku menonton bola. Pukul 12 malam, tayangan bola selesai. Perlahan aku mendekati Titin. Membelai betisnya yang indah di balik daster, lalu mengusap vaginanya. Titin terbangun. Aku mengajaknya pindah ke ranjang satunya. Aku melucuti dasternya. Dengan hanya memakai celana dalam tipis, tubuhnya yang bahenol kubopong dan kurebahkan. Aku menindihnya, meremas dan mengecup puting payudaranya. “Aahhh… Mas…” erangnya manja. Lidahku terus merayap, menikmati setiap inci tubuh seksinya, hingga sampai di vaginanya yang licin. Hampir 20 menit lidahku bermain di sana. “Ayo dong, Mas… cepetan masukin… udah gak tahan, nih,” pintanya. Perlahan, kusapukan penisku. Titin menahan napas, memejamkan mata, dan menggigit bibirnya. Akhirnya, burungku masuk ke sarang. Setelah agak tenang, aku mulai menyodok perlahan. Erangan dan desahan nikmat keluar dari mulut Titin. Dia tidak malu-malu lagi. Di ranjang sebelah, Yeyen masih tidur. Dua puluh lima menit kami bertempur dalam posisi konvensional. Perlahan, aku mengangkat tubuhnya. Sekarang dia di atas. Posisi ini enak. Selain menikmati vaginanya, aku bisa leluasa meremas dan mencium payudaranya yang berayun. Setelah 15 menit, tubuh Titin mengejang. “Aacccchhh… aauugghh… An… di… aku… keluar…,” desahnya. Dia menghempaskan tubuhnya di dadaku. Kami berpagutan mesra. Lima menit aku biarkan dia menikmati orgasmenya. Karena aku belum keluar, aku minta Titin menungging. Aku ingin menikmati posisi doggy style. “Oohhh… Mas…” dia menungging. Aku mengecup dan menjilati belahan pantat seksinya. Perlahan, lidahku sampai ke vaginanya. Titin menggeliat. Tiba-tiba, Yeyen terbangun. “Om Andi, ngapain cium pantat Mama?” selidiknya. “Mama lagi main dokter-dokteran sama Om Andi. Nanti Mama mau disuntik. Yeyen diem aja, ya,” Titin menenangkan. “Ehmm… ayo, Om… suntik Mama Yeyen sekarang, Om… udah gak tahan, neh,” rengek Titin. Yeyen duduk manis, menonton. Aku menggosok-gosokkan penisku dari lubang vagina hingga anus Titin. Karena tidak tega melihatnya meracau, aku arahkan penisku ke liang senggamanya yang licin. “Om, kok Mama Yeyen disuntik pakai burung Om?” protes Yeyen. “Aauhh… ahh… lebih dalam, Masss… An… di…,” pinta Titin, tidak peduli dengan Yeyen. Tiga puluh menit berlalu. Aku merasa akan keluar. Aku putar tubuhnya tanpa mencabut penisku, hingga kami kembali ke posisi konvensional. “Ti… tin… aku mau keluar,” erangku. “Nanti, Masss… tahan… kita bareng,” erangnya, memejamkan mata, menggigit bibir, dan mencengkeram punggungku. Tubuhnya tegang. “Aacchh… aauugghh…” Maniku dan maninya bertemu. Bibir kami berpagutan. Tanganku meremas payudaranya. Setelahnya, aku menghempaskan tubuh di sampingnya. Titin tersenyum puas. “Gak usah, Mas… biarin aja dulu di dalem,” rengeknya saat aku hendak mencabut penisku. Hari-hari berikutnya di Jogja, kami terus berhubungan intim dengan berbagai variasi. Bahkan kami melakukannya di kamar mandi. Kami tidak peduli lagi dengan Yeyen. Titin juga tidak segan mengoral penisku di depan Yeyen. Baca Juga : Cerita Dewasa Hot Bercinta Dengan Ibu Di Sofa

Kisah Nyata Bercinta Dengan Janda Anak Satu Cerita Mesum Novel

3,050 views 1 bulan lalu

Platform AIBokep Mirror menghadirkan Kisah Nyata Bercinta Dengan Janda Anak Satu Cerita Mesum untuk pembaca setia. No cost dan mobile-friendly.

Lihat juga: Strategi Memuaskan Tante Semok Adik Kandung Ibu, Cerita Seks Perselingkuhan Majikan Cantik Bersama Pembantunya Bernama Pono, Semangat Ngentot Mbak Sarah Kakak Kandung Temanku.

Cerita viral dan trending di AIBokep Mirror.

Simpan Konten

Simpan untuk ditonton nanti dengan klik tombol bookmark.