Sangelink – Kisah Nyata Ngentot Pembantu Yang Masih Perawan Cerita Ngewe Viral — Hari sudah nyaris tengah malam saat aku membereskan pembukuan usaha beras. Lampu remang-remang di ruang keluarga cuma menyisakan suara ketikan kalkulator dan desiran AC. Aroma masakan sore tadi masih tertinggal, bercampur wangi parfum istriku, Ima, yang samar-samar. Ima sudah lelap di kamar sejak Maghrib, kelelahan setelah seharian di minimarket. Mata aku melirik ke sofa. Di sana, Anita, si pembantu baru, tertidur pulas. Gadis itu terbilang baru, sekitar tiga tahun bekerja di rumah ini. Dia datang saat anak ketiga aku baru lahir. Usianya masih muda, baru tujuh belas tahun, tapi tanggung jawabnya luar biasa. Mengurus rumah dan tiga bocah nakal memang bukan pekerjaan enteng. Tapi Anita betah, mungkin karena aku sering memberinya bonus. Dia memang pantas mendapatkannya. Kalau dibandingin sama Ima, badan Anita jauh lebih sekel. Tubuhnya enggak kurus, enggak juga gemuk. Tingginya sekitar 164 cm dan beratnya 57 kg, pas banget. Payudaranya kelihatan montok, enggak seperti punya Ima yang sudah mulai kendur dan agak gemuk semenjak melahirkan anak ketiga. Rambutnya panjang terurai, kulitnya bersih, dan kakinya jenjang. Beneran, dia enggak pantes jadi pembantu. Awalnya aku ini tipe suami setia, enggak neko-neko. Meskipun Ima cerewet dan kurang perawatan, aku enggak pernah berniat selingkuh. Tapi semenjak punya pembantu semolek Anita, pikiran kotor mulai muncul. Ima super posesif, jadi enggak mungkin aku selingkuh di luar. Satu-satunya sasaran ya si Anita ini. Setiap malam, saat Anita terlelap di sofa, mataku enggak bisa lepas. Aku sering enggak sengaja ngelihat dadanya yang menonjol dari balik bajunya. Gila, cuma ngelihat doang aja aku udah tegang. Suatu malam, aku sedang kepengen banget bersetubuh, tapi sial, Ima lagi datang bulan. Badanku rasanya gerah, penisku tegang, kayak mau meledak. Aku melirik Anita di sofa. Seperti biasa, dia tidur pulas sambil memeluk anak keduaku. Tiba-tiba, ide gila muncul. Tadi sore, aku sempat menuang obat tidur ke dalam gelas minumnya. Jadi, aku yakin dia tidur lelap dan enggak akan bangun. Artikel Lainnya : Cerita Sex Ngentot Kakak Ipar Cantik Jantungku berdebar kencang. Aku mendekat dengan langkah pelan. Pikiranku campur aduk antara takut ketahuan Ima dan rasa penasaran yang menggebu-gebu. Aku membelai rambutnya perlahan, lalu mengusap pipinya. Nihil. Dia enggak bergerak sama sekali. Keberanianku makin menjadi. Tanganku meraba dadanya yang masih terbungkus baju. Anakku yang terlelap dalam pelukannya bergerak sedikit, tapi Anita tetap enggak bangun. Aku cium keningnya, turun ke bibirnya. Dia masih terdiam. Aku coba lagi, isap bibirnya. Sensasinya luar biasa. Tiba-tiba dia bergerak sedikit. Aku kaget, langsung melepas ciuman dan pura-pura kembali ke meja. Tapi dia cuma bergeser sebentar, lalu terlelap lagi. Rasa takut itu berangsur hilang, berganti dengan hasrat yang makin membara. Aku meremas tanganku, menahan keinginan untuk kembali ke sofa. Beberapa menit kemudian, anakku mendadak rewel, minta susu. Anita terbangun. Dia bilang, “Pak, semalam aku mimpi aneh deh, kok anuku terasa perih, terus ada warna merah di paha sama celanaku.” Aku pura-pura enggak tahu, dan dia pun tersenyum sambil ke kamar mandi untuk mencuci bajunya. Aku hanya mengangguk dan melanjutkan pekerjaanku. Satu jam kemudian, aku perhatikan Anita enggak keluar dari kamar anakku yang nomor satu. Aku penasaran, kenapa dia lama sekali di dalam? Aku melangkah pelan, mengendap-endap seperti maling. Kulihat pintu kamar sedikit terbuka. Aku mengintip. Ternyata dia tidur lagi di ranjang anakku. Dia memeluk si bungsu, tidur miring dengan rok tersingkap. Paha mulusnya terlihat jelas, dalam posisi mengangkang. Darahku langsung mendidih. Aku masuk pelan-pelan, hati-hati biar enggak ketahuan. Aku berdiri di samping ranjang. Wajah Anita begitu polos saat tidur. Aku usap celana dalamnya di dekat vaginanya, perlahan. Tanganku yang lain meremas payudaranya yang montok. Terus dan terus, sampai aku merasa celana dalamnya basah. Aku kaget. Dia menikmati sentuhanku? Jangan-jangan dia pura-pura tidur? Aku kembali ke bibirnya. Aku cium dan isap kuat-kuat, sambil tanganku meremas payudaranya. Terdengar desahan napasnya, perutnya terangkat. Dadanya membusung ke atas. Aku tahu, dia enggak tidur. Ini cuma modus. Aku buka kancing bajunya, lalu menariknya ke atas. Payudara montok itu kini terpampang jelas. Indah sekali, enggak seperti punya Ima yang sudah kendur dan kecil. Aku ciumi payudaranya, mengusapnya dengan bibir. Dia mendesah pelan. Aku selipkan tanganku di antara payudaranya. Bra-nya sempit, tapi tanganku berhasil masuk. Sensasi daging payudaranya yang kenyal dan dingin membuatku tambah gila. Aku remas-remas kuat, sementara bibirku terus mencium bibirnya. Lidahku ku masukkan ke dalam mulutnya. Dia membalas, bahkan menghisap lidahku. Lanjut bab 2: Kisah Nyata Ngentot Pembantu Yang Masih Perawan Cerita Ngewe Viral CHAPTER DUA Tak tahan lagi, aku buka tali BH-nya. Kedua bukit kembar itu kini bebas, menonjol seksi di depan mataku. Aku langsung menyergap putingnya, menghisapnya bergantian, kiri dan kanan. Tanganku yang lain meraba-raba vaginanya, memasukkan jari ke dalam. Dia menggeliat pelan, tanda dia benar-benar menikmati. Aku puas. Penisku sudah tegang banget. Aku buka celana pendekku. Aku naik ke ranjang, di atasnya. Anita telentang, pasrah. Aku pindahkan posisi pahanya, lalu mengarahkan penisku ke mulutnya. Aku paksa masuk. Agak susah, ada penolakan, tapi enggak kuat. Aku terus dorong, pelan-pelan, sampai penisku menyentuh giginya. Dia menggerakkan giginya, menekan penisku. Sialan, dia memang pura-pura tidur. Setelah puas, aku lepaskan penisku dari mulutnya. Tiba-tiba, mulutnya menjepit penisku. Sial, agak susah menariknya. Setelah beberapa saat, akhirnya penisku terlepas. Aku biarkan dia telentang dengan baju tersingkap dan payudara yang menyembul bebas. Aku kembali ke kamarku, mengintip Ima. Syukurlah, dia tidur pulas. Aku kembali ke kamar anakku. Posisi Anita masih sama. Penisku masih tegang. Aku elus vaginanya yang sudah basah, masih pakai celana dalam. Aku buka celana dalamnya pelan-pelan, lalu melorotkannya sampai ke mata kaki. Aku enggak berani melepaskannya seluruhnya. Aku rebahkan badanku di atasnya. Payudaranya menekan dadaku. Sial, nikmat banget. Tangannya tiba-tiba melingkar di leherku, pinggulnya menekan-nekan penisku. Aku arahkan penisku ke lubang vaginanya yang sempit dan basah. Dia mendesah pelan. Aku terus mendorong. Tiba-tiba, dia terkesiap. Oughh… oughhh… oughhh. Penisku terasa menembus sesuatu. Aku melihat ke bawah. Ada warna merah di batangnya. Aku kaget. Dia masih perawan? Aku terus genjot, keluar-masuk. Tanganku meremas payudaranya, mulutku menciumi lehernya. Dia mengejang, dan aku menyemburkan air mani panas ke dalam lubang vaginanya. Setelah itu, aku merasa lemas dan menarik penisku. Aku turun dari ranjang. Anakku tidur nyenyak. Anita juga tidur pulas. Aku rapikan bajunya, mengancingkan celana dalam dan BH-nya. Aku kembali ke kamarku, masuk ke ranjang, dan mendapati Ima masih tidur pulas. Syukurlah, aksiku enggak ketahuan. Besok pagi, aku bangun seperti biasa. Ima sudah berangkat kerja. Kulihat Anita di ruang tengah, bersikap seolah enggak ada apa-apa. Dia hanya bertanya soal mimpi anehnya semalam, dan kenapa ada bercak merah di pahanya. Aku pura-pura enggak tahu, dan dia tampak puas dengan jawabanku. Setelah itu, dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci baju. Pagi itu, aku masih teringat jelas wajah lugu Anita saat ia menanyakan soal celana dalamnya yang bernoda merah. Aku hanya pura-pura tidak tahu dan ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci bajunya. Aku tidak menyangka ia akan percaya begitu saja. Aku tahu ia tidak bodoh, tapi mungkin rasa takut dan pengalaman yang minim membuatnya tidak berani menduga lebih jauh. Selesai sarapan, aku pun pamit ke pasar untuk berjualan. Semakin hari, tingkah laku Anita semakin aneh. Ia seringkali mencuri-curi pandang ke arahku saat kami berpapasan. Terkadang, tanpa sengaja tangannya menyentuh punggungku ketika ia sedang merapikan meja makan. Aku tahu ia ingin sesuatu, tapi aku tidak tahu apa. Hingga suatu malam, aku tidak bisa menahan diriku lagi. Istriku sudah tidur, begitu juga anak-anak. Aku melihat Anita sedang menonton TV di ruang keluarga. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya. “Anit, sini sebentar. Ada yang mau aku omongin,” kataku pelan. “Ada apa, Pak?” tanyanya sambil mematikan TV. “Aku tahu kamu enggak tidur semalam,” kataku tanpa basa-basi. Wajah Anita langsung memerah. Ia menunduk dan tidak berani menatapku. “Maksud Bapak apa?” “Aku tahu kamu pura-pura tidur waktu aku cium kamu. Aku tahu kamu menikmati waktu aku meraba-raba payudara kamu. Aku tahu kamu juga pura-pura tidur waktu aku masukin…” “Pak, aku mohon, jangan sebutin itu lagi,” katanya sambil menangis. Aku tidak peduli. “Kenapa kamu diam saja? Kamu bisa aja teriak, bisa aja bangunin istri aku. Tapi kamu enggak lakuin itu.” Ia terdiam. Aku memegang tangannya. “Aku enggak mau kamu bohongin diri kamu sendiri. Jujur aja sama aku. Kamu suka, kan?” Ia mengangguk pelan. “Aku enggak tahu, Pak. Aku… aku takut.” “Takut apa?” “Aku takut Bapak enggak mau bayar aku lagi. Aku butuh uang, Pak. Aku harus kirim uang ke kampung buat bantu orang tua aku.” Aku tertawa kecil. “Aku kasih kamu lebih. Lebih dari yang istriku kasih.” Ia menatapku dengan mata berbinar. “Benarkah, Pak?” Aku mengangguk. “Tentu saja. Tapi ada syaratnya.” Ia menelan ludah. “Syarat apa?” “Kamu harus selalu nurut sama aku. Apa pun yang aku suruh, kamu harus lakuin.” “Apa pun, Pak?” “Ya, apa pun. Termasuk kalau aku suruh kamu…” Aku mendekatkan bibirku ke telinganya. “…berhubungan intim sama aku.” Ia terdiam, wajahnya pucat. Aku menunggunya. “Aku janji bakal kasih kamu uang yang banyak. Lebih dari yang kamu bayangin.” Ia menunduk, lalu mengangguk pelan. “Iya, Pak.” Aku tersenyum. “Bagus. Sekarang, ayo ikut aku ke kamar.” Aku menggandeng tangan Anita, menariknya pelan ke kamar pribadiku yang terpisah dari kamar tidurku dan Ima. Kamar itu dulunya adalah ruang kerja, tapi kini lebih sering aku gunakan untuk menyendiri. Pintunya terkunci, dan aku sudah memastikan istriku tidak akan terbangun. Anita tampak gemetar saat aku menyuruhnya masuk. Aku mengunci pintu dan menyalakan lampu remang-remang. Wajahnya masih pucat, matanya sembab karena menangis. “Jangan takut,” kataku, “Aku tidak akan menyakiti kamu.” Aku mendekatinya, memeluknya dari belakang. Aroma tubuhnya yang khas, campuran sabun dan keringat, membuatku semakin terangsang. “Aku tahu kamu butuh uang. Aku akan memberikan kamu semua yang kamu mau. Tapi kamu juga harus kasih aku apa yang aku mau.” Anita tidak menjawab. Ia hanya menunduk, badannya menegang. Aku mencium lehernya, menciumnya dengan ganas hingga menimbulkan bekas kemerahan. Anita hanya diam, menahan diri. Aku tahu ia takut, tapi aku tidak peduli. Hasratku sudah di ubun-ubun. Aku membalikkan badannya, menatap matanya yang kosong. “Lihat aku,” kataku. “Kamu milikku sekarang.” Dengan lembut, aku mulai membuka satu per satu kancing bajunya. Tangan Anita bergerak, seolah ingin menahan, tapi ia tidak melakukannya. Bajunya tersingkap, memperlihatkan bra-nya yang berwarna putih. Aku merobeknya, dan payudaranya yang montok menyembul keluar. Aku hisap putingnya, menjilatinya, dan mengulumnya hingga Anita mendesah. “Ohh… Pak…” rintihnya pelan. Desahan itu seperti lampu hijau bagiku. Aku merobek celana dalamnya, lalu membaringkannya di ranjang. Aku melihat vaginanya yang masih perawan, kemerahan dan sempit. Tanpa ragu, aku langsung memposisikan penisku di antara paha mulusnya. Aku masukkan perlahan, tapi vaginanya terlalu sempit. “Ah… sakit, Pak…” rintihnya, mencengkeram sprei. Aku tidak peduli. Aku terus menekan, dan akhirnya penisku berhasil masuk. Aku genjot, pelan-pelan, lalu semakin cepat. Anita terus mendesah, merintih, hingga akhirnya ia mengejang. Aku pun mengikutinya, menyemburkan semua air maniku ke dalam tubuhnya. Setelah itu, aku merasa lemas dan puas. Aku menarik penisku, lalu berbaring di sampingnya. Anita tampak lelah, matanya terpejam. Aku memeluknya, mencium keningnya. “Kamu bagus,” bisikku, “Sangat bagus.” Sejak malam itu, Anita menjadi budak seks pribadiku. Aku memanfaatkannya setiap malam, di saat istriku sudah tertidur. Setiap selesai, aku selalu memberinya uang, dan ia selalu menerimanya dengan senyuman. Aku tahu ia melakukannya karena terpaksa, tapi aku tidak peduli. Bagiku, ia hanyalah alat pemuas nafsu. Hari-hari berlalu. Aku semakin kecanduan. Aku bahkan sering pulang cepat dari pasar hanya untuk bisa menghabiskan waktu dengannya. Istriku mulai curiga. “Kamu kenapa, Mas? Kok akhir-akhir ini sering pulang cepat?” tanyanya suatu hari. “Tidak apa-apa,” jawabku, “Pasar sedang sepi. Aku lelah.” “Bohong. Kamu pasti punya wanita lain, kan?” “Jangan bicara sembarangan!” kataku, nada suaraku meninggi. “Aku hanya lelah, itu saja!” Pertengkaran pun tidak bisa dihindari. Aku tahu ia hanya cemburu, tapi aku tidak bisa menahannya. Aku sudah terlanjur jatuh terlalu dalam. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku hanya tahu aku tidak bisa hidup tanpanya. Hubunganku dengan Anita semakin dalam. Aku tidak peduli lagi dengan Ima, istriku. Aku bahkan sering tidur di kamar kerja, dengan alasan sibuk mengurus pekerjaan. Ima tahu aku berbohong, tapi ia tidak bisa membuktikan apa-apa. Ia hanya bisa menangis dan marah-marah, tapi aku tidak peduli. Aku sudah terlalu kecanduan dengan tubuh Anita. Suatu malam, Ima tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia memaksaku untuk tidur bersamanya di kamar. Aku menolak, dan kami pun bertengkar hebat. Aku meneriakinya, “Aku sudah bilang, aku lelah! Aku tidak mau diganggu!” Ima menangis. “Aku tahu kamu bohong! Kamu pasti punya wanita lain!” Aku tidak menjawab. Aku hanya berbalik dan berjalan menuju kamar kerja. Ima mengejarku. “Kalau kamu memang tidak punya wanita lain, kenapa kamu tidak mau tidur denganku?! Jawab, Mas!” Aku membanting pintu. Ima terus memukul-mukul pintu. “Buka pintunya, Mas! Buka!” Tiba-tiba, suara Ima berhenti. Aku mendengar suara benturan keras, lalu hening. Aku membuka pintu, dan aku melihat Ima tergeletak di lantai, kepalanya berdarah. Ia pingsan. Aku panik, langsung membawanya ke rumah sakit. Dokter mengatakan Ima mengalami pendarahan otak akibat benturan. Ia harus menjalani operasi segera. Aku panik, tidak tahu harus berbuat apa. Di saat yang sama, Anita datang ke rumah sakit. Ia melihatku, lalu menatapku dengan mata penuh ketakutan. “Ini semua gara-gara aku,” katanya, “Ini semua salahku.” Aku tidak menjawab. Aku hanya diam, menatapnya. Aku tahu ia benar. Ini semua salahku. Salahku yang terlalu egois, yang terlalu mengikuti hawa nafsu. Beberapa hari setelah operasi, Ima terbangun. Ia tidak bisa bicara. Badannya lumpuh. Dokter mengatakan ia akan selamanya seperti itu. Aku merasa hancur. Aku tidak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri. Aku pulang ke rumah, melihat Anita, dan aku merasa jijik. Bukan kepadanya, tapi pada diriku sendiri. Aku memanggilnya. “Anit, kamu harus pergi dari sini,” kataku. Ia terkejut. “Tapi kenapa, Pak? Aku janji akan kerja lebih baik lagi.” “Ini bukan soal pekerjaan,” kataku, “Ini soal aku. Aku tidak bisa melihat kamu lagi. Setiap kali aku melihatmu, aku teringat apa yang sudah aku lakukan pada istriku.” Ia menangis. “Aku mohon, Pak, jangan usir aku. Aku butuh uang.” “Aku akan kasih kamu uang,” kataku, “Lebih dari yang kamu minta. Tapi kamu harus pergi. Aku tidak mau kamu kembali lagi ke sini.” Anita pergi dengan wajah sedih, membawa koper kecilnya. Aku hanya menatapnya dari jauh, tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah ia pergi, aku membuang semua uang yang sudah aku berikan kepadanya. Uang itu terasa kotor, seperti diriku sendiri. Beberapa bulan berlalu. Aku menjual semua asetku, termasuk rumah dan usaha beras. Aku tidak bisa lagi tinggal di sana, di tempat di mana semua tragedi ini dimulai. Aku membawa Ima ke panti jompo, dan aku mengunjungi dia setiap hari. Aku duduk di sampingnya, memegang tangannya, dan menangis. Aku tahu ia tidak akan pernah memaafkanku. Dan aku pun tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Satu tahun kemudian, Ima meninggal. Aku merasa hancur. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Aku kehilangan semuanya. Aku hanya punya penyesalan, dan rasa sakit yang tidak akan pernah hilang. Pada akhirnya, aku menyadari bahwa hawa nafsu adalah racun. Ia bisa merusak segalanya, menghancurkan hidup. Aku kehilangan istriku, keluargaku, dan diriku sendiri. Aku menjadi pria yang kosong, hidup dalam kegelapan yang tidak akan pernah berakhir. Kisah ini adalah cerminan dari betapa bahayanya hawa nafsu yang tidak terkendali. Ia bukan hanya merusak diri sendiri, tetapi juga menghancurkan orang-orang di sekitar kita. Terkadang, kita begitu terbuai oleh kenikmatan sesaat hingga melupakan konsekuensi yang jauh lebih besar dan menyakitkan. Belajarlah dari kesalahan. Jadikan penyesalan sebagai motivasi untuk berubah. Kita tidak bisa memutar waktu, tapi kita bisa memilih untuk menjadi manusia yang lebih baik di masa depan.

Kisah Nyata Ngentot Pembantu Yang Masih Perawan Cerita Ngewe Viral Chapter

4,906 views 1 bulan lalu

AIBokep Mirror adalah rumah unggulan untuk membaca Kisah Nyata Ngentot Pembantu Yang Masih Perawan Cerita Ngewe Rame. masuk express dan terbaru cepat.

Lihat juga: Kisah Tante Yang Dibuat Orgasme Berkali-kali Oleh Keponakannya, Si Cantik Sepupu Istriku Yang Menggairahkan, Cerita Seks Perselingkuhan Majikan Cantik Bersama Pembantunya Bernama Pono.

Baca gratis tanpa iklan mengganggu di AIBokep Mirror.

Simpan Konten

Simpan untuk ditonton nanti dengan klik tombol bookmark.