Cerita Sex Dewasa – Aku dan Abangku, Satya, hanya berdua bersaudara. Saat ini, Abang Satya sudah kelas 3 SMA, usianya 18 tahun, dan aku, Risa, kelas 1 SMA. Kami bersekolah di tempat yang sama. Abangku itu memiliki aura yang sangat memikat. Teman-temanku yang perempuan, banyak sekali yang diam-diam menyukai Abang. Hampir setiap hari ada saja yang menitipkan salam untuk Abangku. Jika kami bepergian berdua di luar sekolah—misalnya pergi berbelanja atau berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan—kami selalu menjadi pusat perhatian. Aku sering mendengar orang-orang berbisik, mengatakan betapa kami terlihat serasi. Yang satu begitu rupawan, dan yang satu lagi begitu cantik. Abangku sangat menyayangiku. Saat berjalan, tanganku selalu melingkar di lengan Abang, atau kadang Abang yang merangkul bahuku. Kami memang terlihat sangat dekat, dan Abangku juga sering mendengar bisik-bisik yang mengatakan kami ini pasangan yang serasi. “Bang, tadi Fani, anak kelas sebelah, loh, yang nanyain nomor WA kamu,” kataku sambil menikmati kopi latte di sebuah kafe. Aku merasakan kehangatan lengannya yang memeluk bahuku. “Lalu kamu bilang apa, Sayang?” tanya Abang Satya lembut, ia membalas sentuhan tanganku. “Aku bilang, Abang itu sulit didekati. Aku mau Abang hanya untukku saja,” ujarku sambil tersenyum manja. Abang Satya tertawa kecil, mencubit gemas pipiku. “Dasar adikku yang posesif. Kamu bilang saja kamu cemburu kalau aku dekat dengan perempuan lain, kan?” “Tentu saja! Aku paling suka kalau kita nonton film-film itu berdua, tanpa ada yang mengganggu,” kataku, mengacu pada film-film dewasa yang sering kami tonton diam-diam. “Terserah kamu saja, Manis,” balasnya sambil mengelus rambutku. Sentuhan itu selalu membuatku merinding. Setelah selesai ujian, kami meminta izin kepada Mama dan Papa untuk pergi menonton film sebagai hadiah karena sudah berusaha keras belajar. Mama dan Papa mengizinkan dan memberikan kami uang untuk membeli tiket. Kami menonton di bioskop, sebuah film romantis yang sangat mengharukan. Di dalam bioskop yang gelap, aku menyandarkan kepalaku dengan manja di bahu Abangku. Itu memang kebiasaan kami. Namun, malam itu ada yang berbeda. Tangan Abang mulai meremas-remas lembut telapak tanganku. Aku merasakan debaran jantungku semakin kencang. Aku membayangkan, seandainya aku adalah perempuan di film itu dan Abangku, Satya, yang menjadi pemudanya, betapa bahagianya aku. Tiba-tiba, Abang memelukku erat, kemudian mengecup pipiku dengan sangat lembut. Aku terkejut, namun dalam hati, aku berharap sekali bisa mendapatkan kecupan itu lagi. Setelah film selesai, kami langsung menuju restoran untuk makan malam. Kami membicarakan betapa indahnya kisah di film itu, sangat menyentuh hati. “Apa kamu tidak mendambakan kekasih yang seperti di film itu, Ris?” Abangku membuka pembicaraan. Aku tersenyum dan menatap matanya. “Tentu saja aku mau, Bang. Andai ada laki-laki sebaik dia, aku pasti mau menjadi kekasihnya,” kataku tanpa sadar. “Apa tidak ada laki-laki yang mencoba mendekatimu?” tanyanya. “Banyak,” jawabku. “Lalu, kenapa sampai sekarang kamu belum punya pacar?” “Abang Satya sendiri, kenapa belum punya pacar?” balasku. “Aku hanya mencintai satu orang perempuan saja,” katanya. “Lho, kenapa Abang tidak mengenalkannya padaku?” tanyaku penasaran. “Kamu sudah mengenalnya, Sayang,” jawabnya. “Siapa?” Dia menatapku dalam-dalam. “Ya… kamu sendiri. Risa. Maukah kamu menjadi kekasihku?” Duh, dadaku langsung berdebar tak karuan. Benarkah apa yang dikatakan Abang Satya? Apakah dia mencintaiku, seperti aku mencintainya? Tapi bagaimana status kami? Kami ini kakak dan adik kandung. “Kenapa kamu diam, Ris?” tanyanya. “Apakah Abang sungguh-sungguh?” “Aku serius. Bukankah banyak orang mengatakan kita ini pasangan serasi?” “Tapi, Abang. Kita kan kakak-adik. Mana mungkin kita menikah?” tanyaku, sedikit panik. “Siapa bilang kita harus menikah? Kita pacaran saja, Sayang. Nanti, kalau kamu sudah menemukan laki-laki yang sesuai denganmu, kamu menikah saja dengannya. Bagaimana? Setuju?” Entah dorongan dari mana, aku langsung mengangguk tanda setuju. Kami bersalaman, dan sejak saat itu, aku dan Abangku, Satya, resmi menjalin hubungan. Kami berdua tersenyum penuh rahasia. Abang Satya memintaku pindah ke sampingnya. Setelah kami menghabiskan makanan, ia merangkul bahuku dan merapatkan tubuhku ke tubuhnya yang hangat. Kami lalu pergi ke sudut kota yang indah, yang biasanya menjadi tempat favorit para remaja untuk berkencan. Di bawah cahaya lampu malam yang temaram, kami duduk di sebuah bangku kayu di taman. Abang merangkulku, lalu menarik tengkukku, dan dia mencium bibirku. Duh, darahku berdesir hebat. Aku sudah lama sekali mendambakan sentuhan bibir Abang. Aku langsung membalas ciumannya secara refleks. Padahal, aku belum pernah berciuman seumur hidupku. Bibir kami saling melumat lembut. “Sentuhanmu manis sekali, Sayang,” bisiknya setelah ciuman kami mereda. Abang Satya juga mengaku, itu adalah ciuman pertamanya. Kami tertawa bersama. Dunia terasa begitu indah. Kami berjanji untuk sama-sama menjaga rahasia terlarang ini. Tidak seorang pun boleh tahu kami berpacaran. Hubungan kami berjalan indah sekali. Kamar kami bersebelahan. Jika kami tidak bisa tidur, aku mengirimkan pesan singkat (SMS) kepada Abang, dan dia pasti membalasnya. Hingga suatu malam, tepat pukul 03.00, kami sama-sama tidak bisa tidur. [Pesan dari Abang: Sayang, aku rindu. Tolong buka pintu kamarmu. Pelan-pelan] [Pesan ke Abang: Kamu yakin? Bagaimana kalau Mama dengar?] [Pesan dari Abang: Mama dan Papa tidur pulas. Aku ingin memelukmu, Manisku. Sekarang.] Aku membuka pintu kamarku sedikit. Abang Satya langsung menyelinap masuk dan mengunci pintunya perlahan. Kami langsung berciuman penuh gairah, melampiaskan kerinduan yang mengganggu tidur kami. Bibir kami saling menuntut, tangan Abang mulai merayap di bawah kaosku, menyentuh lembut dadaku. Setelah cukup lama kami berpelukan dan berciuman, Abang Satya kembali ke kamarnya dengan mengendap-endap. Dia menutup pintu kamarnya perlahan. Barulah kami bisa tertidur pulas. Pagi harinya (Minggu), Mama menggedor pintu kamar kami. Kami terbangun dan bersiap mandi. Mama dan Papa sudah rapi sekali, katanya mereka akan pergi ke kondangan Tante Mira. Setelah mereka pergi, aku dan Abang Satya merasa sangat senang tinggal berdua di rumah. “Sayang, kumur dulu, lalu minum, kemudian mandi,” kataku kepadanya. Aku sudah terbiasa memanggilnya Sayang jika kami sendirian, dan dia memanggilku Beb. Aku mulai bertindak layaknya seorang istri, menyiapkan sarapan, dan Abangku bertindak layaknya seorang suami bagiku. Setelah sarapan, Abang Satya menarik tanganku ke kamar mandi utama. “Kita mandi bersama, Sayang,” bisiknya. Aku menurutinya. Di kamar mandi, Abang Satya langsung membuka semua pakaiannya. Ia berdiri telanjang di depanku. Aku sedikit terkejut, namun mataku tak lepas memandang miliknya yang mulai menegang. Dia mendekatiku yang masih terdiam. Abang melepaskan satu per satu pakaianku, hingga aku juga berdiri telanjang di depannya. Kami tersenyum penuh arti. Lanjut Bab dua : Kisah Panas Adik Dan Kakak Seperti Suami Istri Di Ranjang CHAPTER DUA Abang memutar keran shower. Air hangat membasahi tubuh kami. Kami mandi sambil berpelukan, tanpa sehelai benang pun yang menutupi kami. Kami saling menyabuni, memanjakan, dan miliknya yang keras itu sesekali menyentuh kulitku. Setelah selesai, kami mengeringkan tubuh dengan handuk. Dengan keadaan telanjang, kami menuju kamar untuk memakai pakaian rumah yang santai. Abang hanya memakai celana pendek tanpa atasan. Aku memakai daster mini. Aku tahu, kami berdua sama-sama tidak mengenakan pakaian dalam. Abang Satya menarikku ke taman belakang rumah yang tertutup tembok tinggi. Di sana ada sofa panjang yang teduh. “Sini, duduk di pangkuanku,” pintanya. Aku naik ke pangkuannya. Dia membelai-belai kepalaku lembut. Aku memejamkan mata, menikmati sentuhan Abang. Bibirku dikecupnya lagi, dan lidah kami kembali menari dengan mesra. “Pernah nonton film dewasa, Sayang?” tanyanya, suaranya sedikit serak. “Pernah,” jawabku singkat. “Pernah lihat adegan buah dada diisap dan daerah tersembunyi kewanitaan dijilati?” “Pernah,” jawabku. “Pernah lihat pusaka laki-laki dijilati?” “Pernah,” balasku, tahu ke mana arah pembicaraan ini. “Kita praktikkan, yuk,” Abang Satya tersenyum jahil. Aku mengangguk. Dia membuka kancing daster mini-ku di bagian depan, dan buah dadaku yang ranum menyembul keluar. Abang mulai menjilati dan mengemut putingku dengan sangat lembut. Aku merasa senang dan bahagia. Tak lama, bagian kewanitaanku sudah basah dan berlendir. Abang Satya membaringkanku di sofa panjang itu. Ia mengangkangkan kedua pahaku, dan tanpa ragu, dia mulai menjilati bagian terindahku. Awalnya aku merasa malu, tapi kemudian aku membiarkan diriku larut. Aku teringat, kami bukan lagi kakak-adik, melainkan sepasang kekasih. Jilatannya membuatku melayang tinggi ke angkasa, benar-benar menikmati setiap sentuhannya. Aku tidak bisa menahan desahan nikmat. Aku mencapai puncak kenikmatanku, sampai aku menjepit kepala Abang Satya dengan kedua kakiku sekuat tenaga. Setelah orgasmeku terlepas, perlahan aku melonggarkan jepitan kakiku, merasa sangat kelelahan. Abang membelai lembut tubuhku. Setelah napasku kembali normal, Abang Satya berbisik, suaranya memberat. “Beb, aku mau memasukkan milikku, ya?” Aku mengangguk, tanpa bisa berkata-kata lagi. Abang kembali membuka lebar kedua kakiku dan merapatkan pusakanya yang tegang ke lubang kewanitaanku. Dia menekannya perlahan-lahan. Uh, rasanya begitu indah saat ujung milik Abang Satya menyentuh pintu masukku. Namun, tekanan Abang membuatku sedikit nyeri di bagian kewanitaanku yang masih rapat. “Pelan, Sayang, sakit,” rengekku. Abang Satya berhenti menekan sejenak, membiarkan miliknya diam. Kemudian, dia menekannya kembali, sangat perlahan. Aku merasakan nyeri yang luar biasa, tapi Abang terus menekannya hingga aku menjerit kecil. “Yaanggg… sakit,” kataku, merengek manja. Abang menahan napas sebentar, lalu menjilati dadaku lagi. Kemudian, dia menekannya lagi sampai pusakanya amblas masuk seluruhnya. Sial, rasa sakitnya membuatku menangis, air mataku meleleh. Abang Satya menahan diri sejenak. Setelah rasa nyerinya berkurang, Abang menarik perlahan pusakanya keluar, dan kali ini, gesekannya di bagian kewanitaanku terasa begitu nikmat. Abang kembali menekan perlahan dan menarik perlahan. Gerakan itu perlahan berubah menjadi ketukan yang memabukkan, hingga aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Aku memeluknya erat dari bawah, menciumi lehernya. “Enak, Sayang,” bisikku. Ketukannya semakin lama semakin cepat, dan kami berdua saling berpelukan erat. Aku merasakan semburan hangat cairan cinta Abang Satya di dalam diriku. Kami berdua terkulai lemas. Ada sedikit bercak darah di sofa. Abang Satya dengan cepat membersihkannya. “Mulai sekarang, kita bukan sekadar pacaran lagi. Kita sudah seperti suami-istri, Sayang,” katanya sambil tersenyum tulus. Aku juga tersenyum, meski ada sedikit rasa nyeri yang kembali terasa. “Mulai sekarang, panggil aku Papi, dan aku akan memanggil kamu Mami,” katanya, senyumnya begitu memikat. Aku mengangguk setuju. Aku segera memakai pembalut untuk menghentikan pendarahan. Kami berdua menjaga rahasia indah ini. Sejak saat itu, kami selalu mengulanginya, namun kami selalu menggunakan pengaman. Kecuali tiga atau empat hari menjelang datang bulan, kami melakukannya tanpa pengaman, karena kata Abang, dia lebih suka mencurahkan cintanya di dalam. Mama dan Papa mulai menyadari keakraban kami yang berlebihan. Mereka heran, kenapa kami begitu dekat dan mesra. Terkadang kami tidak sadar, kami memperlihatkan kemesraan kami di depan mereka, kami sering lepas kontrol. Abang Satya lulus SMA, dan ia dikirim ke Amerika untuk melanjutkan kuliahnya. Mama dan Papa berjanji, kalau aku lulus SMA, aku juga akan dikirimkan menyusul ke Amerika. Aku merasa sedih sekali saat berpisah dengan Abang Satya. Aku menangis tersedu-sedu, membuat Mama dan Papa semakin heran, seolah-olah aku sedang berpisah dengan kekasih hatiku. Abang Satya juga memelukku kuat dan erat, mengelus bahuku, dan ikut menangis. Dia membisikkan sebuah janji manis yang terlarang: “Jika kamu lulus nanti, kamu harus menyusulku, Sayang. Dan kita akan menikah di Amerika,” Aku mengangguk setuju. Aku berharap bisa cepat menyelesaikan ujian akhir. Diam-diam, aku terus menabung dan berhemat. Aku sudah bertekad, bila Mama dan Papa tidak mengizinkanku ke Amerika, aku akan lari menemui Abang Satya, Papi-ku, di sana. [TAMAT]

Novel Kisah Panas Adik Dan Kakak Seperti Suami Istri Di Ranjang

5,119 views 1 bulan lalu

Kisah Panas Adik Dan Kakak Seperti Suami Istri Di Ranjang hadir di AIBokep Mirror - aplikasi baca web dengan koleksi terlengkap. Refresh Februari 2026.

Lihat juga: Kisah Nyata Bercinta Dengan Janda Anak Satu Cerita Mesum, Cerita Dewasa Hubungan Erotis Dengan Adik Iparku Si Siska, Cerita Seks Perselingkuhan Majikan Cantik Bersama Pembantunya Bernama Pono.

Update cerita terbaru setiap hari di AIBokep Mirror.

Simpan Konten

Simpan untuk ditonton nanti dengan klik tombol bookmark.