Cerita Dewasa Sedarah – Sejak usaha startup digital kami, “Kreatifnesia,” mulai stabil di awal Musim Hujan 2026, Luna, istri aku, makin sering banget ngasih sinyal buat ehm… bercinta siang bolong. Mungkin karena jadwal kerja aku dan Luna yang fleksibel, atau mungkin karena hal lain yang baru aku sadari belakangan. Kamar aku dan Luna itu nempel banget sama area mencuci dan jemur di halaman belakang. Situasi di rumah agak beda sejak Bunda Mala, ibu aku, pindah bareng kami. Tujuannya mulia: biar aman, dan yang utama, biar kami bisa kasih cucu. Harapan ortu mah gitu, padahal aku dan Luna belum bisa fokus ke momongan karena masih berjuang keras buat usaha ini. Nah, Bunda Mala ini inisiatifnya minta ampun. Semua urusan domestik, mulai dari masak, nyuci, sampai bersih-bersih, diambil alih semua. Aku sempat tawarin buat rekrut Asisten Rumah Tangga (ART) biar Bunda ada temen ngobrol, tapi ditolak mentah-mentah, katanya pemborosan. “Kalau gak ngurusin kerjaan rumah, badan sama pikiran malah sakit semua, Nak,” kata Bunda waktu itu. Aku sih seneng, tapi jujur gak enak hati juga. Luna, istri aku, malah kayaknya seneng banget. Katanya, “Biarin aja, Yank. Ada bantuan ekstra selain kamu yang kadang kayak romusha,” candanya sambil cengengesan. Bunda Mala, di usia 53 tahun, masih cakep. Tubuhnya berisi, tapi aku lebih suka menyebutnya curvy. Lekukannya masih ada, gak luntur dimakan usia. Aku yakin, banyak om-om di luar sana yang masih memfantasikan sosok Bunda dalam lamunan jorok mereka. Luna, sebagai desainer fashion daring, sering banget ngajak Bunda belanja. Tapi, anehnya, baju-baju yang dibeli itu lebih ke selera Luna, bukan selera Bunda yang konservatif. Jadilah lemari Bunda penuh sama koleksi daster, tanktop, atau rok pendek di atas lutut yang kainnya relatif tipis. Topik Menarik Serupa: Nikmatnya Ngentot Ibu Kandung Awalnya Bunda risih banget. Aku pun gak enak lihatnya. Tapi karena Luna juga sering pakai baju sejenis di rumah, Bunda lama-lama jadi terbiasa. “Toh di rumah cuma kita bertiga, Yan,” kata Luna santai. Aku cuma bisa garuk-garuk kepala, mikir kenapa Luna malah beliin baju kayak gitu buat Bunda. Saat kami dapat giliran shift siang di kantor, pagi harinya kami manfaatkan buat bersebadan. Bukan cuma karena ingin, tapi juga demi menyenangkan Bunda dengan kasih dia cucu. Pagi itu, di kamar yang jendelanya besar berlapis kaca gelap, aku bisa lihat Bunda lagi menjemur pakaian. Bunda lagi pakai daster barunya, hasil belanja sama Luna. Motifnya cantik, bahannya halus, tapi tipisnya minta ampun, dan panjangnya agak jauh di atas lutut. Ketika Bunda membungkuk, samar-samar aku bisa lihat guratan pembungkus rahasia-nya tercetak jelas. Bahkan, saat Bunda jongkok, pembungkus rahasia itu langsung kelihatan, dibingkai paha Bunda yang masih putih mulus. Aku memandang Bunda, gak sadar kalau aku sedang melamun. Chup! Tiba-tiba Luna mencium aku. Aku kaget. Luna langsung ngasih sinyal minta ‘jatah’. Jujur, aku agak malas karena kegiatan ini jadi rutin dan monoton. Tapi karena ini ‘kebaikan’, aku layani juga. Kami mulai pemanasan sambil sesekali melirik Bunda di luar. Kalau lampu dimatikan, kami pasti gak kelihatan. Di tengah gerakan ritmis, aku beberapa kali terpancing buat ngelirik Bunda. Mungkin karena rangsangan bersebadan, tubuh Bunda dalam balutan daster tipis itu jadi terlihat sangat merangsang. Rudal aku jadi lebih keras dari biasanya, gak bisa bohong. Tiba-tiba Luna menghentikan gerakan. Dia mengambil penutup mata dari kotak koleksi pribadi kami. Aku kira aku yang disuruh pakai, biar gak jelalatan. Eh, ternyata dia bilang dia yang mau pakai. “Biar kamu lebih fokus, Yank,” bisiknya sambil tersenyum misterius. Akhirnya kami melanjutkan gerakan ritmis itu, dengan mata Luna tertutup. Sontak, aku jadi lebih leluasa memandang ke luar, ke arah Bunda. Dengan Luna gak lihat, aku semakin sering memandang Bunda di tengah gerakan ritmis kami. Aku sudah mendekati pelepasan, mata aku gak lepas dari tubuh Bunda. Rudal aku makin mengeras, dan itu jarak kami ke Bunda cuma dua meter, dibatasi kaca gelap. Perasaan takut ketahuan, segan, penasaran, dan tubuh Bunda yang memang masih menggiurkan, campur jadi satu, menambah rangsangan gila buat aku. Aku bisa melihat jelas tubuh Bunda. Rupanya Bunda gak pakai penutup dada. Luna pernah bilang kalau daster itu lebih cocok kalau gak pakai penutup dada biar bentuknya gak merusak penampilan. Aku jadi bisa lihat jelas biji nangka Bunda menonjol. Ketika Bunda jongkok, aku kembali lihat pembungkus rahasia Bunda. Aku memandangi Bunda tanpa berkedip. Aku praktis sedang bersebadan dengan Luna, tapi pikiran aku dipenuhi oleh tubuh ibu aku sendiri. Di tengah gerakan ritmis aku yang semakin liar, aku pandangi setiap bagian tubuh Bunda. Aku fantasikan seolah aku sedang bercinta dengan Bunda. Lanjut Bab 2: Cerita Dewasa 2026 – Istriku Mengajak Ibu Kandungku Main Bertiga Denganku CHAPTER DUA Aaaah! Ooooh! Di tengah gerakan ritmis aku yang makin bersemangat, Luna tiba-tiba melenguh agak keras. Sepertinya dia makin menikmati karena rudal aku jadi lebih keras dan bersemangat. Bunda Mala sepertinya mendengar lenguhan Luna. Sambil jongkok, Bunda memandang ke arah kaca kamar kami. Aku bisa lihat pahanya yang masih mulus, pembungkus rahasia berwarna putih tulang, belahan dadanya, dan kini, wajahnya. Lengkap sudah! Aku menikmati pemandangan tubuh Bunda, dari kepala sampai kaki, saat aku orgasme. Aku ejakulasi, cairan cinta aku menyemprot lebih banyak dari biasanya. Aku balik menatap wajah Bunda, gak peduli apakah Bunda dapat melihatku. Aku menikmati pelepasan aku sambil menikmati wajah Bunda. Nafsu aku membuat aku berpikir gila, serasa ingin mengecup bibir Bunda. Aku benar-benar menikmati tubuh Bunda dengan mata aku, setiap detil kemulusan tangannya. Bunda sepertinya gak bisa melihat kami. Tiba-tiba Bunda berdiri membelakangi dan mengambil cucian yang lain. Aku masih merasakan denyutan rudal aku sambil melihat pantatnya yang berayun-ayun menjauh, menampilkan guratan pembungkus rahasia. Biasanya, setelah pelepasan, aku langsung cabut dari serambi lempit Luna. Tapi dengan pemandangan pantat Bunda, aku sesekali memaju-mundurkan pinggul aku. Insting gairah aku membuat aku seolah sedang bercinta dengan Bunda dari belakang. Luna sepertinya merasakan perbedaan kecil ini. Dia gak buru-buru buka penutup mata, menikmati aku dengan fantasiku. Kayaknya dia tahu kalau aku mulai muncul gairah sama Bunda sendiri. Dia gak komentar apa-apa. Rudal aku kali ini gak cepat lemas seperti biasanya. Rudal itu tinggal agak lama dalam serambi lempit Luna. Aku masih memandang tubuh Bunda sampai Bunda selesai menjemur. Aku pelan-pelan mencabut rudal aku. Luna membuka penutup matanya, menciumi aku, dan bilang dia orgasme karena rudal aku lebih keras dan terasa beda. Sejak saat itu, kami jadi sering ambil shift siang. Kami bersebadan dulu, ditemani Bunda yang sedang menjemur. Luna gak lagi pakai penutup mata dan bahkan membolehkan aku memandang Bunda saat kami bersebadan. Kadang kami lakukan di lantai, dekat ke jendela yang memang agak besar, biar kami bisa lihat lebih jelas ke luar. Suara desahan kami kadang memancing Bunda melirik ke arah kami. Kami gak terlihat, tapi sesekali kami lihat Bunda kayak gelisah dengar suara gerakan ritmis kami. Rasanya, dengan Bunda sedekat itu, kami kayak lagi threesome. Luna juga jadi lebih sering kasih baju seksi buat Bunda, bahkan ada yang semi transparan. Bunda sempat nolak, tapi dengan paksaan dan bujukan Luna, Bunda tetap pakai baju-baju itu, termasuk saat menjemur. Aku hampir selalu disuguhi pemandangan seksi. Aku gak tahu apa yang Luna pikirkan, dia sama sekali gak cemburu ketika aku memandang Bunda saat kami bercinta. Walaupun begitu, aku masih tahu batasan fantasiku. Aku gak berharap sungguhan bercinta dengan Bunda. Scene Baru: Luna Merayu Bunda Suatu sore, saat aku sedang rapat daring di ruang kerja, aku dengar Luna dan Bunda lagi ngobrol serius di dapur. Aku curi dengar sebentar. “Bun, daster yang Luna beliin itu bagus banget di Bunda, lho,” kata Luna, suaranya manja. “Ah, kamu ini, Lun. Terlalu tipis. Rasanya kayak telanjang,” jawab Bunda, terdengar malu-malu. “Justru itu, Bun! Rian aja kalau lihat Bunda pakai itu, matanya gak bisa lepas. Dia makin sayang sama Bunda, lho,” Luna merayu. “Bunda itu masih cantik banget. Sayang kalau cuma pakai daster-daster lama.” “Masa sih, Lun? Nak Rian gak bilang apa-apa…” “Cuma gak bilang aja, Bun, tapi matanya gak bohong. Percaya deh sama Luna. Bunda harus bangga sama diri sendiri. Biar gak kelihatan kayak ibu-ibu kesepian.” Terdengar hening sebentar. Lalu Bunda tertawa kecil. “Dasar kamu ini, Luna. Ada-ada saja. Ya sudahlah, demi kamu dan Nak Rian, Bunda pakai.” Aku tersenyum kecut di ruang kerja. Luna memang manipulatif, tapi aku suka caranya bermain. Aku makin penasaran apa rencana Luna berikutnya. — Bagian 2: Pertunjukan Panas di Jendela Aku gak nyangka, Luna makin ketagihan melihat aku yang makin bernafsu bercinta sambil lihat tubuh Bunda menjemur pakaian. Suatu waktu, dia kasih ide gila: mengikat aku di kursi, telanjang, saat kami akan bercinta. Aku pasrah aja, asalkan gak membahayakan jiwa. Hari itu hari Minggu. Pagi hari, Bunda sedang sibuk di luar dengan jemuran. Luna mulai aksinya. Aku terikat di kursi, tangan dan kaki aku diikat, telanjang bulat. Kursi aku hadapkan ke jendela, lutut aku hampir nempel ke kaca. Kami sudah tes, kaca kami aman. Dari luar jarak satu meter gak kelihatan apa-apa. Luna membelakangi jendela, mulai melakukan lap dance dengan daster tipis, berusaha membuat rudal aku tegang. Nghhh… Ahhh… aku mendesah pelan. Aku memandangi Bunda dari bahu Luna. Bunda baru keluar dari pintu sambil membawa cucian baru. Saat rudal aku sudah tegang maksimal, Luna memasang vibrator koleksi kami, yang punya remote control, di kepala rudal aku. Luna menyalakan vibrator itu. Kecepatannya pelan, jadi aku gak akan cepat pelepasan, tapi cukup buat menjaga rudal aku tetap bangun. Luna, dengan dasternya yang gak kalah seksi sama daster Bunda yang dipakai menjemur, memerintahkan aku buat menikmati “pertunjukan”. “Nikmati, Sayang. Ini hadiah dari aku,” katanya. Tiba-tiba, Luna keluar dari kamar, menemui Bunda di halaman. Aku kaget, apa lagi ini! pikir aku. Aku ditinggal terikat, telanjang, menghadap jendela, dengan rudal dipasang vibrator. Mereka ngobrol. Luna membantu Bunda menjemur. Tapi, lebih tepatnya, Luna memperlambat pekerjaan Bunda. Aku, dengan vibrator yang terus menyala, melihat dua sosok seksi di depan aku. Posisi aku sangat dekat, hampir menempel ke kaca. Mereka berbicara serius. Luna mengelus tangan Bunda. Kayaknya lagi curhat. Bunda pun sesekali mengelus rambut Luna. Scene Baru: Ciuman Pertama Bunda dan Luna Wajah mereka saling mendekat, lalu mereka berciuman. Luna memang pandai banget bawa suasana jadi romantis. Bunda kelihatan masih kaget dan ragu-ragu. Tapi Luna bisa meyakinkan kalau semuanya baik-baik aja. “Nak Rian lagi ‘sibuk’. Kita punya waktu dan privasi, Bun,” kata Luna, yang aku yakin saat itu. Bunda Mala kayaknya memang merindukan sentuhan seksual, tapi segan dekat sama laki-laki lain karena masih menghormati Ayah dan takut sama niat buruk pria di luar sana. Sentuhan Luna kayaknya membuka kerinduan itu, meskipun dengan sesama wanita. Setelah beberapa lama berciuman, mereka mulai saling meraba. Luna makin berani, mengangkat daster tipis Bunda dan mulai bermain dengan biji nangka Bunda. Sambil merangsang biji nangka Bunda, Luna melepaskan dasternya sendiri sampai telanjang. Ternyata, kalung yang dipakainya itu remote control buat vibrator rudal aku. Hah! Dasar istri gila manipulatif! aku mengutuk sambil tersenyum. Melihat menantunya telanjang, Bunda gak segan lagi. Bunda gak menolak saat Luna melepaskan daster Bunda. Deg! Aku disuguhi pemandangan super erotis: Bunda dan Luna telanjang bulat di depan aku, sementara vibrator masih menyala di rudal aku. Aku bersyukur vibrator ini kualitasnya bagus dan hemat baterai. Bunda kayaknya cuma bisa mengelus punggung Luna, saat Luna menghisap biji nangka Bunda. Tangan Luna mulai bermain di dalam pembungkus rahasia Bunda. Bunda makin bergairah, sesekali mereka berciuman. Pembungkus rahasia Bunda akhirnya dilepas juga oleh Luna. Kini aku memandang punggung Bunda yang gak tertutup sehelai benang pun. Punggungnya mulus, lekuk tubuhnya berisi dan seksi. Luna dan Bunda makin panas. Luna makin ganas menjamah serambi lempit Bunda. Kemudian Luna jongkok, mengecup kelereng madu Bunda, sambil jarinya masuk ke serambi lempit-nya. Vibrator aku gak bergetar terlalu kuat, tapi pemandangan porno aksi live di depan aku ini bisa bikin aku pelepasan cuma dengan rangsangan ringan. Sensasi menyaksikan tubuh telanjang Bunda sendiri bercampur antara rasa bersalah, penasaran, takut ketahuan, dan kenikmatan dari vibrator. Luna tahu kapan Bunda akan orgasme. Ketika Bunda sudah mau puncak, Luna membalikkan badan Bunda. Bunda menahan badannya dengan tangan bertumpu pada kaca jendela. Bunda berhadapan langsung dengan aku yang telanjang dan terikat!. Ekspresi orgasme Bunda terlihat jelas dari jarak sedekat ini. Luna menciumi pantat Bunda. Tiba-tiba, tangan Luna meraih remote vibrator dan menaikkan kecepatan ke level atas. Aaaakh! Uhhh! Rian, Rian! Jantungku serasa mau copot! Bunda mengalami orgasme. Bersamaan, vibrator di rudal aku tiba-tiba bergetar cepat, ngasih rangsangan kuat yang menjalar ke seluruh tubuh. Aku memandang tubuh telanjang Bunda. Kaki, paha, serambi lempit yang tercukur rapi, perutnya, payudaranya dengan biji nangka yang mengeras, lalu wajahnya yang menahan kenikmatan orgasme dari Luna. Aku ingin rasanya mengecup bibir Bunda sambil memeluknya. Aku gak bisa bertahan lama. Rasanya seperti bercinta dengan Bunda dengan jarak sedekat ini. Rudal aku menyemprotkan cairan cinta aku, kuat dan banyak, mengenai kaca jendela, tepat di depan perut Bunda. Prak! Walaupun gak keras, bunyi cairan kental menabrak jendela harusnya menarik perhatian. Bunda melihat cairan yang menempel di jendela dan berusaha mendekati. Bunda tahu aku di dalam, walaupun gak jelas, dan itu cukup mengejutkannya. Wajah Bunda yang terkejut, tapi masih di bawah pengaruh gelombang orgasme, benar-benar menaikkan dorongan orgasme aku. Kami berpandangan, dibatasi kaca. Aku merasa cairan cinta aku gak cukup buat mengimbangi orgasme aku. Aku majukan pinggul aku ke arah Bunda, berharap bisa menyemprotkan lagi, tapi cuma menetes saja. Kami hanya menikmati momen meredanya orgasme, sambil berhadapan. Bunda gak dapat melihat jelas, tapi tahu kalau aku memandangi dirinya yang telanjang. Aku merasakan kedutan rudal aku yang melemah, sambil menikmati pemandangan tubuh Bunda. Ide Luna memang gila, terencana banget. Bunda berbalik, mau masuk rumah. Luna mau memakaikan daster Bunda, tapi ditolak. Bunda tersenyum kecut ke Luna, sambil sebentar melirik ke arah jendela kamar kami. Bunda masuk rumah, membawa dasternya. Untuk beberapa kali aku ketemu Bunda di rumah, kami jadi agak canggung. Bunda kembali pakai baju lamanya yang lebih tertutup. Kami gak bercinta langsung, tapi momen orgasme bersamaan dan saling berpandangan itu membentuk ikatan baru aku dan Bunda. Bunda sepertinya menemukan pemuas dahaga seksualnya, walaupun dengan cara yang gak biasa. Luna tahu itu, dan aku gak melarang. Aku di antara menikmati dan khawatir sama rencana Luna berikutnya. — Bagian 3: Tabu yang Runtuh di Atas Ranjang Walaupun Bunda masih segan setelah insiden vibrator, Bunda dan Luna masih beberapa kali saling memuaskan hasrat mereka. Kadang di halaman, di kamar Bunda, atau di ruang keluarga. Tentunya, mereka selalu atur agar aku bisa mengintip secara sembunyi-sembunyi. Aku gak perlu diikat lagi. Aku di setiap kesempatan, memandangi mereka berdua bermesraan sambil mengocok rudal aku sendiri. Kadang Luna berpesan, “Jangan sampai pelepasan dulu, Sayang!”. Selesai Luna memuaskan Bunda, dia gantian memuaskan hasrat aku. Luna senang banget merangsang Bunda dengan mengecup serambi lempit-nya sampai Bunda orgasme. Cairan cinta Bunda banyak menempel ke mulut Luna. Tanpa dibersihkan, Luna gantian mengecup aku yang sedang mengintip, membagikan cairan cinta Bunda ke bibir aku. Sedikit banyak, aku jadi familiar dengan aroma serambi lempit Bunda. Walaupun kami gak saling melihat terang-terangan, aku dan Bunda sama-sama tahu: kalau Luna bermesraan dengan Bunda, aku pasti sedang mengintip. Begitu juga sebaliknya, aku tahu Bunda mengintip saat kami bersebadan. Luna sangat telaten dengan plotnya. Aku menikmati permainannya sambil menebak apa langkah dia berikutnya. Selalu ada alasan buat mendekatkan jarak aku dan Bunda. Scene Baru: Kedekatan di Balik Pembatas Kain Suatu malam, Luna berinisiatif mengajak Bunda melanjutkan bermesraan di kamar kami. Kami sudah paham kalau kami selalu saling mengintip. Mengetahui sedang diintip itu ngasih kepuasan yang lebih besar karena fantasi yang muncul di otak kami. Tapi, buat menampakkan diri terang-terangan, kami masih berpegangan pada tabu: ibu dan anak gak boleh saling memuaskan secara seksual. Luna dan aku memasang kain pemisah di tengah ranjang. Masangnya asal-asalan, yang penting gak saling pandang langsung. Aku rebahan di satu sisi, diam gak bersuara, itu permintaan Luna. Aku dengar mereka masuk kamar dan akan naik ke ranjang. Luna mengisyaratkan biar pelan-pelan, bilang kalau aku mungkin sedang tidur di sebelah. Pelan-pelan, mereka berdua naik ke ranjang kami. Bunda khawatir aku bangun, tapi melihat aku gak bereaksi, Bunda percaya aku tidur. Mereka mulai pemanasan dan saling merangsang seperti biasa. Bunda sudah terkesan menahan desahannya karena khawatir membangunkan aku. Aku bergerak, seolah kayak orang tidur yang ganti posisi. Sret… Mereka terdiam. Lalu lanjut lagi. Desahan Bunda makin lama makin keras, karena Luna makin mahir merangsang. Luna juga mendesah keras, karena Bunda gantian menghisap biji nangka-nya atau memainkan serambi lempit Luna. Aku mengocok rudal aku sendiri sambil mengintip dari celah kain pembatas. Kain itu kurang sempurna nempel di sprei, jadi aku bisa lihat Bunda dari jarak sangat dekat. Bahu kami cuma berjarak beberapa sentimeter. Luna di posisi atas, Bunda di bawah, jadi aku bisa lihat Bunda. Ketika Luna sedang mengecup serambi lempit Bunda, tangan Luna gak disangka menembus pembatas, berusaha meraih rudal aku. Bunda kaget, takut membangunkan aku. Tapi Luna dengan yakin menekan tubuh Bunda supaya tetap rebahan, sementara mulutnya tetap merangsang serambi lempit Bunda. Aku menggeser posisi agar Luna dapat menjangkau rudal aku. Sreet… Rudal aku kini dikocok oleh Luna. Bunda tahu aku sedang menikmati kocokan Luna, itu membuatnya semakin mendesah. Nghhh… Ahhh… aku melenguh pelan. Mmmmh… Ooooh… Bunda ikut melenguh. Desahan kami bersahutan, meningkatkan birahi kami bertiga. Kami bisa saling mendengar napas kami. Suara Bunda di dekat telinga aku. Mendesah, merintih, dibarengi napas aku yang semakin berat. Kocokan Luna membangun tensi seksual dalam tubuh aku. Tubuh aku makin menginginkan pelepasan. Tubuh Bunda yang menggeliat di samping membuat aku semakin bernafsu. Tiba-tiba, Luna melepaskan tangannya dari rudal aku. Rasanya nanggung banget! Ugh! Aku ingin melanjutkan sendiri, tapi tiba-tiba tangan Bunda menyeberang pembatas, dipandu oleh tangan Luna. Tangan Bunda meraba perut aku, lalu turun, mencari-cari rudal aku. Tangan Bunda menjamah tubuh aku. Ini rangsangan yang sangat erotis. Tubuh Bunda makin mendekat. Rudal aku yang berdiri tegak kini disentuh oleh Bunda. Bunda kelihatan ragu-ragu sebentar. Tangan Luna terus memandu tangan Bunda. Aku pindahkan tangan aku biar gak menghalangi tangan Bunda. Kini Bunda menggenggam rudal aku. Jeder! Kejutan rangsangan meningkat ke seluruh tubuh. Tangan Bunda menggenggam, tapi gak bergerak. Tapi itu sudah cukup buat naikin birahi aku. Itu tangan Bunda, bukan tangan Luna yang udah biasa. Aaaakh… Bunda! Aku mendesah agak lebih keras. Kain satin pemisah, yang cuma dicantolkan di paku dan buffet, terlepas dan jatuh di antara aku dan Bunda. Scene Baru: Batas yang Melebur Kami saling berpandangan. Tangan Bunda tetap di rudal aku, dan tangan aku kini di payudaranya. Kami gak mampu lagi menyembunyikan ekspresi terangsang. Wajah Bunda sayu, bibir terbuka, ngeluarin desahan. Wajah aku menahan orgasme agar gak terlalu cepat selesai. Wajah kami mendekat, lalu kami berciuman. Mmuacchh! Mmuacchh! Desah napas kami makin keras dan cepat. Luna berhenti merangsang serambi lempit Bunda. Dia berusaha merengkuh tubuh aku, lebih tepatnya, mendekatkan tubuh aku ke tubuh Bunda. Tangan Bunda ragu-ragu mendekatkan rudal aku ke selangkangannya. Kami sudah di puncak nafsu. Bunda melebarkan kakinya, berharap tubuh aku makin dekat. Kini aku arahkan rudal aku ke serambi lempit Bunda. Serambi lempit Bunda sudah licin karena rangsangan Luna. Aku peluk pinggang Bunda. Tanpa hambatan, aku masukkan rudal aku ke serambi lempit Bunda. Hah… Aaaakh! Bunda terpekik, mengucapkan “Sayangku” ke telinga aku. Kata yang biasa keluar saat Bunda kasih pujian. Kini, kata “Sayangku” diucapkan berulang-ulang, hampir seirama dengan gerakan ritmis aku ke tubuhnya. Aku hampir klimaks. Aku mulai atur irama gerakan ritmis kami pelan-pelan. Rupanya Bunda orgasme duluan. Tangannya memegangi rambut aku, mengecupi aku, sambil melenguh melepaskan desakan seksual. Serambi lempit Bunda terasa hangat oleh banjir cairan cinta-nya. Berkedut-kedut, seolah melepaskan kerinduan akan hadirnya rudal laki-laki di dalamnya. Aku gak dapat menahan sensasi kedutan itu. Pertahanan aku runtuh. Aku tekankan pantat aku ke serambi lempit Bunda, dan aku pelepasan, menyemprotkan cairan cinta aku ke dalam serambi lempit Bunda. Cairan cinta aku banyak sekali. Tubuh aku gak menyia-nyiakan kesempatan ini, memompakan cairan cinta sebanyak-banyaknya. Tubuh Bunda bergetar, gelombang orgasmenya disusul oleh orgasme baru. Kedutan serambi lempit Bunda makin kuat, menghisap rudal aku, memeras biar semuanya keluar. Kami menikmati orgasme yang terasa sangat hebat. Kami berciuman, melupakan sebentar Luna yang sudah merencanakan ini semua. Luna tersenyum melihat kami, sambil berlutut di lantai di tepi ranjang. Aku memanfaatkan momen ini buat mengelus tubuh Bunda, mengagumi lekukannya sebagai seorang lelaki kepada seorang wanita. Orgasme kami mereda. Kami kembali ke kesadaran, memandang Luna dengan malu-malu. Luna mencium bibir aku dalam-dalam, lalu mencium bibir Bunda agak lama. Peristiwa itu merupakan upacara selamat datang ke hubungan intim kami bertiga. Kami merahasiakan ini semua dari saudara-saudara. Hanya saja, mereka heran, Bunda Mala tampak awet muda setelah sekian lama menjanda. Sejak Bunda aktif secara seksual bersama kami, tubuhnya makin seksi. Konon, cairan cinta laki-laki bisa mempertahankan kecantikan kalau diserap tubuh wanita. Bunda tentu bangga, dengan dalih perawatan herbal. Dengan seks bertiga, aku dan Luna jadi lebih sering bercinta juga. Kadang Bunda mancing aku, lalu Luna join. Atau sebaliknya, Luna dipanasi, lalu aku menyelesaikan dengan Luna atau Bunda. TAMAT
Cerita Dewasa 2026 – Istriku Mengajak Ibu Kandungku Main Bertiga Denganku Online
Cerita Cerita Dewasa 2026 – Istriku Mengajak Ibu Kandungku Main Bertiga Denganku total di AIBokep Mirror. Anyar Februari 2026, mobile-friendly.
Lihat juga: Bersetubuh Dengan Pacar Anak Ku yang Cantik Dan Harum, Semangat Ngentot Mbak Sarah Kakak Kandung Temanku, Cerita Pesta Seks Yang Muncul Dari Ide Gila Sang Pengusaha Muda.
Baca cerita lengkap gratis di AIBokep Mirror.
Info Download
Video akan tersedia untuk download setelah iklan dibuka.
Simpan Konten
Simpan untuk ditonton nanti dengan klik tombol bookmark.
Konten Serupa
Baca Bersetubuh Dengan Pacar Anak Ku yang Cantik Dan Harum
Semangat Ngentot Mbak Sarah Kakak Kandung Temanku - Story
Cerita Pesta Seks Yang Muncul Dari Ide Gila Sang Pengusaha Muda | Story
Si Cantik Sepupu Istriku Yang Menggairahkan | AIBokep Mirror
Cerita Dewasa Terlarang Bercinta Dengan Sepupu Chapter
Nikmatnya Menembak Di Rahim Kakak Ipar Saat Dia Tidur Chapter
Strategi Memuaskan Tante Semok Adik Kandung Ibu | Story