Cerita Sex Dewasa – Aku (tokoh utama) baru berusia 38 tahun. Aku adalah seorang manajer proyek di sebuah perusahaan konstruksi besar. Setelah bercerai dua tahun lalu, aku fokus bekerja dan menikmati hidup sendiri di sebuah apartemen mewah di pusat kota. Apartemen ini punya dua kamar tidur utama dengan kamar mandi dalam, ruang tengah besar dengan pemandangan cakrawala kota, dan dapur minimalis. Saat ini, hidupku agak terisi karena anak semata wayangku, Rio (20 tahun), sedang menjalani magang di luar kota selama tiga bulan. Rio menitipkan pacarnya, Dinda (22 tahun), untuk tinggal bersamaku. Dinda adalah mahasiswi jurusan Desain Komunikasi Visual. Dia bilang, kos-kosannya kurang aman dan lebih baik tinggal di apartemen ini selama Rio pergi. Tentu saja, aku mengizinkan. Lagipula, Dinda ini memang mantap banget. Dinda baru seminggu tinggal di sini, dan sialan-nya, dia punya kebiasaan yang bikin kontol-ku tegang melulu. Seperti sore ini. Aku baru pulang dari kantor. Kunci sudah kubawa. Begitu pintu terbuka, bau sabun mandi yang harum banget langsung menyergap hidung. Aku menutup pintu, melepas sepatu, dan berjalan menuju ruang tengah. Di sana, Dinda sedang duduk di sofa, menikmati pemandangan kota yang mulai temaram. “Eh, Om Fajar sudah pulang,” sapanya. Jantungku langsung jedag-jedug kencang. Dinda hanya mengenakan kimono handuk pendek berwarna merah muda, cuma setinggi 15 cm di atas lutut. Kimono itu masih terlihat agak basah, menandakan dia baru selesai mandi. Tubuhnya seksi parah. Tingginya sekitar 165 cm, rambut hitamnya yang ikal sebahu terlihat basah dan tergerai. Wajahnya, dengan mata, alis, dan bibir yang indah, sedang menatapku sambil tersenyum. “Iya, Din. Baru aja nyampe,” jawabku, berusaha terdengar santai padahal kontol-ku sudah mulai berdiri melihat pemandangan di depanku. Dinda bangkit dari sofa, berjalan menuju dapur, mungkin mau mengambil minum. Pinggulnya yang besar dan berisi itu bergoyang ke kiri-kanan seiring langkahnya, hanya ditutupi oleh kimono tipis yang tidak terikat sempurna. Sial, belahan toketnya yang montok itu menyembul di antara bukaan kimono. Pentilnya tampak samar membayang di balik kain handuk itu. Astaga, ini pacar anakku, tapi kenapa dia begini? Aku mengikutinya ke arah dapur, berjalan agak di belakangnya. Pikiranku mulai liar. Aku membayangkan betapa nikmatnya kalau aku memeluk tubuh itu dari belakang erat-erat. Aku ingin sekali menempelkan kontol-ku di gundukan pantatnya dan meremas-remas toket montok itu. Dinda mengambil sebotol air dingin dari kulkas, lalu memberikannya padaku. “Om pasti capek. Mau Dinda bikinkan kopi?” tawarnya. “Enggak usah, Din. Air putih saja cukup,” kataku sambil menerima botol air. Aku berusaha mengendalikan pandanganku, tapi fokusku terarah pada bagian dadanya yang melimpah. “Kamu belum pakai bra ya, Din?” tanyaku, sedikit blak-blakan. Dinda tersipu. Wajahnya agak memerah. “Hah? Ehm… iya, Om. Baru selesai mandi,” jawabnya lirih. Dia buru-buru membalikkan badan, mengambil gelas di rak piring. “Lain kali kalau ada Om di rumah, pakai bra ya, Nak. Biar Om-nya enggak mimisan,” godaku, dengan senyum nakal. “Ih, Om Fajar! Genit deh!” pekiknya pelan, tapi dia tidak terlihat marah. Dia malah buru-buru masuk ke kamarnya, mungkin untuk berganti pakaian. Aku minum air dingin, mencoba memadamkan api di selangkangan yang sudah membakar hebat. Kontol-ku sudah ngaceng keras banget. Tak lama kemudian, Dinda keluar dari kamar. Kali ini, dia mengenakan daster tipis berbahan licin berwarna ungu muda. Sialan, daster itu malah lebih parah. Bahan licinnya memperlihatkan tonjolan toket yang membusung. Dia tetap tidak mengenakan bra, sehingga kedua pentilnya tampak jelas sekali tercetak di daster itu. Dinda berjalan ke meja makan, mengambil toples berisi kue, dan duduk di hadapanku. Kami mulai ngobrol ngalor-ngidul, dari kuliahnya, magang Rio, sampai ke hal-hal ringan lainnya. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk menatapnya dari dekat, tanpa rasa risih. Saat dia sedikit merunduk mengambil kue, belahan daster di dadanya menampilkan pemandangan toket montok itu dengan jelas. Kontol-ku makin menegang di balik celana bahan kantorku. Ini saatnya. “Din, jujur deh. Kamu enggak puas ya sama Rio di ranjang?” tanyaku to the point. Dinda terdiam. Mukanya langsung memerah. “Kok Om tahu sih?” tanyanya pelan. “Om pernah dengar kamu melenguh dari kamar, tapi akhirnya malah mengeluh. Rio cepat ngecretnya, ya?” tanyaku lagi, menekan. Air muka Dinda langsung berubah sedih. “Iya, Om. Rio itu cepat banget keluarnya. Dinda baru mulai ngerasa enak, dia udah kelar. Kesel deh jadinya, kayak Dinda cuma jadi pemuas nafsunya dia doang,” curhatnya. “Aku kasihan lho dengar kamu. Kamu cantik, toket-mu montok begini, harusnya kamu dapat yang lebih yahud,” kataku, sedikit memuji dan memprovokasi. Dinda hanya mengangguk, dia terlihat lega bisa curhat. “Om mandi dulu deh, udah waktunya makan malam. Dinda siapin makanan dulu ya,” katanya mengakhiri pembicaraan seru ini. “Kirain kamu mau nawarin mandiin aku,” godaku, nyengir. “Ih, Om Fajar! Genit banget!” jawabnya sambil tersipu, lalu beranjak ke dapur. Aku masuk ke kamarku dan langsung mandi. Pembicaraan tadi benar-benar bikin kontol-ku tegang enggak karuan. Selesai mandi, aku hanya memakai celana pendek kolor dan kaos. Sengaja banget aku tidak memakai celana dalam. Kontol-ku masih ngaceng berat dan cetakannya terlihat jelas di celana pendekku. Malam ini, suaminya Dinda sedang tugas keluar kota untuk beberapa hari. Aku pengen banget ngentotin Dinda malam ini. Saat makan malam, Dinda bersikap biasa saja, berusaha tidak mengarahkan pembicaraan ke soal seks. Tapi dia juga tidak terlihat risih dengan cetakan kontol-ku di celana. Setiap dia tertawa, aku membayangkan mencium bibirnya, menyedot toketnya, dan meremas pantatnya sampai dia menggeliat keenakan. Selesai makan, Dinda membereskan piring dan gelas. Saat kembali dari dapur, dia terpeleset! Ternyata ada sedikit air yang tumpah saat dia membawa peralatan makan. Betis kanannya membentur rak kayu. “Aduh,” Dinda mengerang kesakitan. Aku segera menolongnya, meraih punggung dan pinggulnya. Aku membopongnya ke kamarnya dan merebahkannya di ranjang. Bau sabun yang harum kembali tercium. Belahan dasternya terbuka lebar, dan aku bisa melihat kemontokan toketnya dengan leluasa. Nafsu aku langsung naik lagi. Kontol-ku semakin tegang. Saat menarik tangan dari pinggulnya, tanganku tidak sengaja mengusap pahanya yang tersingkap. Dinda memegang betisnya. Ada sedikit memar di sana. “Biar aku bantu. Sini aku urut pelan-pelan,” kataku, langsung meraih betis itu. Aku memijit dan mengurut perlahan bagian yang memar. “Pelan, Om. Sakit,” erangnya. Lama-lama, suaranya hilang. Matanya terpejam. Napasnya teratur. Dinda tertidur pulas. Aku melemahkan pijitan, lalu menghentikannya. Aku menatap wajahnya yang cantik. Toketnya yang montok bergerak naik-turun mengikuti napas tidurnya. Pentilnya menyembul di balik daster. Pinggangnya ramping, dan pinggulnya besar melebar. Daster tipis itu tidak mampu menyembunyikan garis segitiga celana dalam kecilnya. Aku membayangkan apa yang ada di balik celana dalam itu, dan kontol-ku makin keras gila. Aku mengelus betisnya, lalu menyibakkan bagian bawah dasternya sampai sebatas perut. Paha mulus itu terhampar di depanku. Beberapa helai jembut hitam keluar dari celana dalam minimnya. Aku mengeluskan tanganku ke pangkal pahanya. Perlahan, ibu jariku mengelus di belahan nonoknya. Aku menciumi paha mulusnya bergantian, kiri dan kanan, sambil mengusap dan meremasnya pelan-pelan. Kedua paha itu bergerak membuka sedikit lebih lebar, seolah memberi izin. Aku melepas celana pendekku. Lanjut Bab Dua : Bersetubuh Dengan Pacar Anak Ku Yang Cantik Dan Harum CHAPTER DUA Aku kembali menciumi dan menjilati paha dan betisnya. Aku menempelkan kepala kontol-ku yang sudah ngaceng berat di pahanya. Rasa hangat dari paha Dinda mengalir ke kepala kontol-ku. Aku menggesek-gesekkan kepala kontol di sepanjang pahanya, sambil sedikit menekannya. Rasanya nikmat banget. Nafsu aku makin tinggi, dan aku jadi makin nekat. Aku melepaskan daster Dinda. Seketika, Dinda terbangun karena ulahku. “Om, Dinda mau diapain?” tanyanya lirih. Aku terkejut, dan segera menghentikan aksiku. Aku menatap tubuh mulus Dinda yang kini telanjang. Tubuh moleknya, toket besar yang membusung, pinggang ramping, pinggul melebar, dan pentilnya yang berdiri tegak, sungguh membangkitkan birahi. “Din, aku mau ngasih kenikmatan sama kamu. Mau enggak?” tanyaku perlahan, sambil mencium toketnya yang montok. Dinda diam saja, matanya terpejam. Sial, dia sudah terangsang! Aku mengendus-endus kedua toketnya yang harum, sesekali mengecupkan bibir dan menjilati lidahku. Pentil toket kanannya kulahap ke dalam mulutku. Badan Dinda sedikit tersentak ketika aku menggencet perlahan pentilnya menggunakan lidah dan gigi atasku. “Om…” rintihnya. Tindakanku membangkitkan nafsunya juga. Karena sangat ingin merasakan kenikmatan dientot, Dinda diam saja membiarkan aku menjelajahi tubuhnya. Aku menyedot-nyedot pentil toketnya secara berirama, dari lemah ke agak kuat. Aku memperbesar daerah lahapan bibirku, sampai pentil dan toket sekitarnya yang kecoklatan itu masuk ke mulutku. Wajah Dinda tampak menahan kenikmatan. Kedua toket harum itu aku ciumi dan sedot secara berirama. Kontol-ku makin tegang. Sambil terus menggumuli toketnya dengan bibir, lidah, dan wajah, aku menggesek-gesekkan kontol di kulit pahanya yang halus. Wajahku aku benamkan di antara kedua gumpalan dada Dinda, lalu bergerak ke bawah. Aku menggesek-gesekkan wajahku di lekukan perut. Kecupan dan jilatan pindah ke perut dan pinggang. Gesekan kepala kontol pindah ke betisnya. Bibir dan lidahku menyusuri perut. Wajahku bergerak lebih ke bawah, dan aku memeluk pinggulnya perlahan. Kecupanku pindah ke celana dalam tipisnya. Aku menjilati helaian jembut yang keluar dari celana dalamnya, lalu aku mengendus dan menjilati celana dalam pink itu di bagian belahan nonoknya. Dinda makin terengah, lenguhannya menahan kenikmatan. Aku bangkit, berdiri di atas lutut, mengangkangi tubuhnya. Aku menempelkan kontol-ku yang tegang di kulit toket Dinda. Kepala kontol aku gesek-gesekkan di toket montok itu. Sambil mengocok batangnya dengan tangan kanan, kepala kontol terus aku gesekkan, kiri dan kanan. Setelah dua menit, aku meraih kedua gumpalan toket itu. Aku menjepit batang kontol-ku dengan kedua gumpalan toketnya. Rasa hangat toket Dinda mengalir ke seluruh batang kontol-ku. Perlahan, aku menggerakkan maju-mundur kontol-ku di cekikan kedua toketnya. Kekenyalan daging toketnya memijit-mijit batang kontol-ku, memberi rasa nikmat yang luar biasa. Ketika maju, kepala kontol mencapai pangkal lehernya. Ketika mundur, kepala kontol tersembunyi di jepitan toketnya. Lama-lama, gerak maju-mundur kontol-ku bertambah cepat, dan kedua toketnya aku tekan semakin keras agar jepitan di batang kontol-ku semakin kuat. Aku merem melek menikmati enaknya jepitan toket itu. Dinda pun mendesah-desah tertahan: “Ah… hhh… hhh… ah…”. Kontol-ku mulai melelehkan sedikit cairan. Cairan itu membasahi belahan toket Dinda, menjadi pelumas yang memperlancar maju-mundurnya kontol-ku di dalam jepitan. “Hih… hhh… … Luar biasa enaknya…,” erangku. Napas Dinda menjadi tidak teratur. Desahan-desahan keluar dari bibirnya: “Ngh… ngh… hhh… heh… eh… ngh…”. Desahan itu makin memuncakkan nafsuku. Gerakan maju-mundurnya kontol-ku makin cepat. Kontol-ku semakin tegang dan keras. “Enak sekali, Din,” erangku tak tertahankan. Aku mempercepat gerakan maju-mundur. Aku menikmati lima menit penuh di jepitan toketnya. Aku melepaskan toket kanannya. Tangan kanan aku membimbing kontol dan menggesek-gesekkan kepalanya dengan gerakan memutar di kulit toketnya yang halus. Sambil jari-jari tangan kiri terus meremas toket kiri Dinda, kontol-ku aku gerakkan memutar-mutar menuju ke perut. Di sekitar pusarnya, kepala kontol aku gesekkan memutar, sambil sesekali aku sodokkan perlahan di lubang pusarnya. Aku copot celana dalam minimnya. Pinggulnya tidak berpenutup lagi. Di bawah perut, jembut hitam lebat menutupi daerah sekitar lubang nonoknya. Kedua paha Dinda aku renggangkan lebih lebar. Hutan lebat di bawah perut itu terkuak, menampilkan nonoknya. Aku mengambil posisi agar kontol-ku mudah mencapai nonok Dinda. Tangan kanan memegang batang kontol, dan kepalanya aku gesek-gesekkan ke jembut Dinda. Rasa geli menggelitik kepala kontol-ku. Kepala kontol aku gesek-gesekkan ke sekeliling bibir nonoknya, lalu aku tusuk sedikit ke dalam. Lama-lama, dinding mulut lubang nonoknya menjadi basah. Aku getarkan perlahan kontol-ku sambil terus memasuki lubang nonok. Kini, seluruh kepala kontol-ku yang berhelm pink terbenam dalam jepitan mulut nonok Dinda. Jepitan mulut nonok itu terasa hangat dan enak sekali. Desisan kecil keluar dari mulut Dinda. Kontol-ku makin tegang. Dinding mulut nonoknya terasa semakin basah. Perlahan, aku tusukkan kontol-ku lebih ke dalam, sampai separuh batang di luar. Secara perlahan, aku masukkan kontol-ku seluruhnya ke dalam nonok. Seluruh batang kontol-ku dijepit oleh nonok Dinda dengan sangat enak. Aku gerakkan keluar-masuk perlahan-lahan. Saat keluar, yang tersisa hanya kepala kontol. Saat masuk, seluruh kontol terbenam sampai pangkalnya. Rasa hangat dan enak luar biasa memijiti seluruh bagian kontol-ku. Alis mata Dinda terangkat naik setiap kali kontol-ku menusuk masuk perlahan. Bibir segarnya terbuka sedikit, giginya terkatup rapat. Dari mulut sexy itu keluar desis kenikmatan: “Sssh…sssh… hhh… hhh… ssh… sssh…”. Aku terus mengocok perlahan-lahan nonoknya. Setelah enam menit berlalu, aku mengocok perlahan lagi, menikmati jepitan otot-otot nonok itu selama dua menit. Kemudian aku tarik kontol-ku, tapi kepalanya masih tertanam. Batang kontol aku kocok dengan jari-jari tangan kanan dengan cepat. Dinda mendesah-desah: “Sssh… sssh… zzz…ah… ah… hhh…”. Tiga menit kemudian, aku masukkan lagi seluruh kontol-ku dan mengocok perlahan selama empat menit. Aku mulai tidak puas. Aku percepat gerakan keluar-masuk kontol-ku pada nonoknya. Rasa enak menjalar di sekujur kontol-ku. Sambil mendesis-desis tertahan, aku berujar, “Din… nonokmu luar biasa… nikmatnya…”. Gerakan cepat itu berlangsung sekitar empat menit. Rasa gatal-gatal enak mulai menjalar. Itu artinya, sebentar lagi aku akan ngecret. Aku copot kontol-ku dari nonok Dinda. Aku segera berdiri, berlutut mengangkangi tubuhnya, agar kontol-ku mudah mencapai toketnya. Aku meraih kedua gumpalan toket itu untuk menjepit kontol-ku. Aku agak merundukkan badan, dan aku kocokkan kontol maju-mundur di dalam jepitan toketnya. Cairan nonok Dinda yang membasahi kontol-ku kini melumasi gesekan dengan kulit toketnya. “Oh… hangatnya… Sssh… nikmatnya… Tubuhmu luarrr biasa…,” aku merintih keenakan. Dinda juga mendesis-desis: “Sssh.. sssh… sssh…” Aku mempercepat gerakan maju-mundurnya kontol-ku. Aku perkuat tekanan pada toketnya agar kontol-ku terjepit lebih kuat. Rasa enak dan hangat menjalar ke seluruh kontol-ku. Kepala kontol-ku tampak mengkilat di jepitan toket Dinda. Rasa gatal yang menyusup ke kontol-ku semakin menjadi-jadi. Aku mempercepat kocokan kontol-ku. Rasa gatal, hangat, dan enak menuju puncaknya. Tiga menit kocokan hebat itu berlangsung. Ketika rasa gatal dan enak hampir mencapai puncak, aku menahan sekuat tenaga sambil mengocokkan kontol di kempitan toketnya dengan sangat cepat. Akhirnya, rasa gatal, hangat, dan enak yang luar biasa mencapai puncaknya. Aku tidak kuasa lagi membendungnya. “Dinda…!” pekikku tak tertahankan. Jebollah pertahananku. Rasa hangat dan nikmat luar biasa menyusup ke seluruh sel-sel kontol-ku saat menyemburkan peju. Crot! Crot! Crot! Crot! Peju-ku menyemprot dengan derasnya. Sampai empat kali, kuat sekali semprotannya, sampai menghantam rahang Dinda. Peju putih kental itu mengalir turun ke lehernya. Cret! Cret! Cret! Peju yang tersisa menyusul keluar dalam tiga semprotan lemah. Aku menikmati akhir-akhir kenikmatan. “Luar biasa… Din, nikmat sekali tubuhmu…,” gumamku. “Kok enggak dikeluarin di dalam nonok saja, Om?” tanya Dinda lirih. “Enggak apa-apa kalau aku ngecret di dalam, Din?” tanyaku memastikan. “Enggak apa-apa, Om. Dinda pengen ngerasa kesemprot peju hangat. Tapi Dinda ngerasa nikmat sekali, Om. Belum pernah Dinda ngerasain kenikmatan seperti ini,” katanya. “Ini baru ronde pertama, Din. Mau lagi kan ronde kedua?” tanyaku. “Mau, Om! Tapi ngecretnya di dalam ya,” jawabnya. Aku segera mengelap kontol dengan tisu dan memakainya celana pendek lagi. Aku ambil beberapa lembar tisu untuk mengelap peju yang berleleran di rahang, leher, dan toket Dinda. “Mau ke mana, Om?” tanyanya. “Mau ambil minum dulu,” jawabku. “Kok celananya dipakai? Katanya mau ronde kedua,” protesnya. Rupanya Dinda sudah pengen aku menggelutinya sekali lagi. Aku kembali ke kamar. Aku masih tidak puas memandangi toket indahnya, pinggangnya yang ramping, dan nonoknya yang dikelilingi jembut lebat. Aku ingin mengulangi permainan tadi, mengocok nonoknya dengan kontol-ku dengan irama menghentak-hentak kuat, dan menyemprotkan peju di dalam nonoknya. Nafsuku terbakar. “Dinda…,” desahku penuh nafsu. Bibirku menggeluti bibirnya. Bibir sensual yang menantang itu aku lumat-lumat dengan ganas. Dinda membalas lumatan bibirku dengan dahsyat. Kedua tanganku menyusup di antara lengannya. Tubuhnya sekarang dalam dekapanku. Aku mempererat dekapan, dan Dinda pun mempererat pelukannya. Kehangatan tubuhnya merembes ke badanku. Toketnya yang membusung menekan dadaku. Jari-jari tangan Dinda meremas-remas kulit punggungku. Dinda mencopot celanaku. Aku mendekap tubuh Dinda lagi sambil melumat bibirnya. Aku terus mendekap tubuhnya. Kontol-ku terasa hangat dan mengeras. Tangan kiriku turun ke perbatasan pinggang ramping dan pinggul besarnya, menekannya kuat-kuat dari belakang ke arah perutku. Kontol-ku tergencet perut bawahku dan perut bawah Dinda dengan enak. Bibirku bergerak ke lehernya. Aku ciumi, hisap-hisap dengan hidungku, dan jilati dengan lidahku. “Ah… geli… geli…,” desah Dinda sambil menengadahkan kepala. Dinda membusungkan dada dan melenturkan pinggangnya ke depan. Tangan kananku bergerak ke toketnya yang montok, dan meremas-remasnya. Setelah puas menggeluti lehernya, wajahku turun ke belahan dadanya. Kedua tanganku memegangitoket. Aku geluti belahan toketnya, sambil meremas-remas kedua toketnya dan menekankannya ke wajahku. Aku gesek-gesekkan memutar wajahku di belahan toket itu. Bibirku bergerak ke atas bukit toket sebelah kiri. Aku ciumi bukit toketnya, dan memasukkan pentilnya ke dalam mulutku. “Ah… geli… geli…,” Dinda mendesis-desis sambil menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan. Aku memperkuat sedotanku. Tangan aku meremas kuat toket sebelah kanan. Aku memijit-mijit pentilnya dengan jari telunjuk dan ibu jari. “Om… hhh… geli… geli… enak… enak… ngilu… ngilu…” rintihnya. Aku makin gemas. Aku mainkan toket Dinda secara bergantian. “Ah…Om… terus… hzzz… ngilu… ngilu…” Dinda mendesis-desis keenakan. Geliatan tubuhnya semakin sering. Dinda akhirnya meraih kontol-ku. “Om.. Batang kontolnya besar ya,” ucapnya. Sambil membiarkan wajah, mulut, dan tanganku memainkan toketnya, jari-jari lentik tangan kanannya meremas-remas perlahan kontol-ku secara berirama. Remasannya memberi rasa hangat dan nikmat. Aku rengkuh tubuhnya dengan gemas. Ciumanku pindah ke daerah telinga dan lehernya. Sambil aku gencet dan pelintir perlahan pentil toket kirinya, meremas kuat bukit toket kanannya, dan menyedot kulit lehernya, kontol-ku aku gesek-gesekkan dan tekan-tekankan ke perutnya. Dinda menggelinjang ke kiri-kanan: “Ah… Om… ngilu… terus Om… terus… ah… geli… geli… terus… hhh… enak… enaknya… enak…,” rintihnya. Goyangan pinggul itu membuat kontol-ku semakin keenakan. “Din… enak sekali Din… sssh… luar biasa… enak sekali…,” aku mendesis-desis. “Om keenakan ya? Batang kontol Om terasa besar dan keras sekali menekan perut Dinda. Wow… kontol Om terasa hangat… tangan Om nakal sekali … ngilu…” rintih Dinda. Dinda menarik wajahku mendekat. Bibirnya melumat bibirku dengan ganas. Aku membalas, melumat bibirnya penuh nafsu. Kulit punggungnya aku remas-remas dengan gemas. Aku menindihi tubuh Dinda. Kontol-ku terjepit di antara pangkal pahanya dan perutku. Rasa hangat mengalir ke batang kontol-ku. Aku tidak sabar lagi. Bibirku menciumi dagu dan lehernya, sementara tanganku membimbing kontol-ku mencari liang nonoknya. Aku putar-putarkan dulu kepala kontol-ku di jembut sekitar bibir nonok Dinda. Dinda meraih batang kontol-ku. Pahanya terbuka lebar. “Om kontolnya besar dan keras sekali,” katanya sambil mengarahkan kepala kontol-ku ke lubang nonoknya. Kepala kontol-ku menyentuh bibir nonoknya yang sudah basah. Perlahan dan sambil aku getarkan, kontol aku tekankan masuk ke liang nonok. Kini, seluruh kepala kontol-ku terbenam di dalam nonoknya. Aku menghentikan gerakan masuk kontol. “Om… teruskan masuk… Sssh… enak… jangan berhenti sampai situ saja…,” protes Dinda. Aku biarkan kontol-ku masuk sebatas kepala, tapi aku getarkan dengan amplitudo kecil. Bibir dan hidungku menggeluti leher dan lengan tangannya yang harum. Dinda menggelinjang tidak karuan: “Sssh… sssh… enak… enak… geli… geli, Om. Geli… Terus masuk, Om…”. Aku konsentrasikan tenaga pada pinggulku. Dan… satu… dua… tiga! Kontol-ku aku tusukkan sedalam-dalamnya ke dalam nonok Dinda dengan sangat cepat dan kuat. Plak! Pangkal pahaku beradu dengan pangkal pahanya. Kulit batang kontol-ku bagaikan diplirid oleh bibir nonoknya yang basah: srrrt!. “Auwww!” pekik Dinda. Aku diam sesaat, membiarkan kontol-ku tertanam seluruhnya. “Sakit, Om…” kata Dinda sambil meremas punggungku dengan keras. Aku pun mulai menggerakkan kontol-ku keluar-masuk nonok Dinda. Seluruh bagian kontol-ku serasa dipijit-pijit dinding lubang nonoknya dengan agak kuat. “Bagaimana, Din, sakit?” tanyaku. “Sssh… enak sekali… enak sekali… kontol Om besar dan panjang sekali… sampai-sampai menyumpal penuh seluruh penjuru lubang nonok Dinda…,” jawabnya. Aku terus memompa nonok Dinda perlahan-lahan. Toketnya yang menempel di dadaku ikut terpilin akibat gerakan memompa. Kedua pentilnya seakan-akan menggelitik dadaku. Kontol-ku serasa diremas-remas berirama oleh otot-otot nonoknya. Terasa hangat dan enak sekali. Setiap kali menusuk, kepala kontol-ku menyentuh daging hangat di dalam nonok Dinda. Sentuhan itu menggelitiki kepala kontol. Geli-geli nikmat. Aku mengambil kedua kakinya dan mengangkatnya. Sambil menjaga kontol-ku tidak tercabut, aku mengambil posisi agak jongkok. Betis kanan Dinda aku tumpangkan di bahuku. Sambil terus mengocok nonoknya perlahan, betis kirinya aku ciumi dan kecupi dengan gemas. Setelah puas dengan betis kiri, ganti betis kanannya yang aku ciumi dan geluti. Aku meletakkan kedua betisnya di bahuku. Masih dengan kocokan kontol perlahan di nonoknya, tanganku meremas-remas toket montok Dinda. Aku remas kuat-kuat secara berirama. Kadang aku gencet dan pelintir-pelintir perlahan kedua pentilnya. Dinda merintih-rintih keenakan. “Ah… Om, geli… geli… … Ngilu Om, ngilu… Sssh… sssh… terus Om, terus…. kontol Om membuat nonok Dinda merasa enak sekali… Nanti jangan dikeluarin di luar nonok, ya Om. Keluarkan di dalam saja…”. Aku mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kontol-ku. “Ah-ah-ah… bener, Om. Bener… yang cepat… Terus Om, terus…”. Aku merasa diberi semangat oleh rintihan Dinda. Aku tingkatkan kecepatan keluar-masuk kontol-ku. Kontol-ku serasa diremas-remas cepat oleh nonok Dinda. Mata Dinda merem-melek. Aku pun mendesis-desis. “Sssh… sssh… Dinda… enak sekali… enak sekali nonokmu…”. “Ya Om, Dinda juga merasa enak sekali… terusss… terus Om, terusss…”. Aku meningkatkan lagi kecepatan. “Om… sssh… sssh… Terus… terus… Dinda hampir nyampe… sedikit lagi… sama-sama ya Om…,” Dinda mengoceh tanpa kendali. Aku terus mengayuh. Kontol-ku merasakan nonok Dinda bagaikan berdenyut hebat. “Om… Ah-ah-ah-ah-ah… Mau keluar Om… mau keluar..ah-ah-ah-ah-ah… sekarang ke-ke-ke…”. Tiba-tiba kontol-ku dicekik dinding nonok Dinda sangat kuat. Kontol-ku disemprot cairan yang keluar dari nonoknya. Dinda berteriak: “…keluarrr…!”. Tubuh Dinda mengejang. Aku menghentikan genjotanku. Kontol-ku kubiarkan tertanam. Terasa hangat luar biasa karena semprotan cairan nonok Dinda. Dinda memejam menikmati puncaknya. Setelah satu menit, jepitan dinding nonoknya melemah. Aku kembali menindihi tubuh telanjang Dinda. “Om… luar biasa… rasanya seperti ke langit ke tujuh,” kata Dinda dengan mimik wajah penuh kepuasan. Kontol-ku masih tegang di dalam nonoknya. Aku kembali mendekap tubuh Dinda. Kontol-ku mulai bergerak keluar-masuk lagi, perlahan. Dinding nonok Dinda mulai meremas-remas kontol-ku lagi. “Ahhh… Om… langsung mulai lagi… Sekarang giliran Om.. semprotkan peju Om di nonok Dinda.. Sssh…,” Dinda mendesis-desis lagi. Bibirku memagut bibir Dinda dan melumat-lumatnya. Tangan kananku meremas-remas toket Dinda serta memijit-mijit pentilnya, sesuai irama gerak maju-mundur kontol-ku. “Sssh… sssh… sssh… enak Om, enak… Terus… teruss… terusss…,” desis Dinda. Aku mempercepat genjotan kontol-ku. Pengaruh cairan di dalam nonoknya, keluar-masuk kontol menimbulkan suara: srrt-srret srrrt-srrret. Dinda merintih kenikmatan. Kontol-ku makin tegang. Aku lepaskan tangan kananku dari toketnya. Kedua tanganku memeluk punggungnya. Tangan Dinda memeluk punggungku dan mengusap-usapnya. Aku memulai serangan dahsyatku. Keluar-masuknya kontol-ku berlangsung cepat dan bertenaga. Setiap kali masuk, kontol aku hunjamkan keras-keras agar menusuk nonok Dinda sedalam-dalamnya. Kontol-ku bagai diremas dan dihentakkan kuat-kuat oleh dinding nonok Dinda. Sampai di langkah terdalam, mata Dinda membeliak sambil bibirnya mengeluarkan seruan tertahan, “Ak!”. Daging pangkal pahaku beradu dengan daging pangkal pahanya: plak!. Pada gerak keluar, kontol aku jaga agar kepalanya tetap tertanam. Aku terus menggenjot nonok Dinda dengan gerakan cepat dan menghentak-hentak. Tangan Dinda meremas punggungku kuat-kuat. Beradunya daging pangkal paha menimbulkan suara: Plak! Plak! Plak! Plak!. Pergeseran kontol dan nonoknya menimbulkan bunyi srottt-srrrt… srottt-srrrt…. “Ak! Hhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…” pekik Dinda. Kontol-ku terasa empot-empotan luar biasa. “Din… Enak sekali Din… nonokmu enak sekali… nonokmu hangat sekali… jepitan nonokmu enak sekali…”. “Om… terus Om,” rintih Dinda, “enak Om… enaaak… Ak! Hhh…”. Tiba-tiba rasa gatal menyelimuti segenap penjuru kontol-ku. Gatal yang enak sekali. Aku mengocokkan kontol-ku ke nonoknya semakin cepat dan keras. Setiap masuk, kontol-ku berusaha menusuk lebih dalam lagi. Rasa gatal dan rasa enak semakin menghebat. “Dinda… aku… aku…”. Aku tidak mampu menyelesaikan ucapanku. “Om, Dinda… mau nyampe lagi… Ak-ak-ak… aku nyam…”. Tiba-tiba kontol-ku mengejang dan berdenyut dahsyat. Aku tidak mampu lagi menahan rasa gatal yang mencapai puncaknya. Saat itu juga, dinding nonok Dinda mencekik kuat sekali. Dengan cekikan yang kuat dan enak itu, aku tidak mampu lagi menahan jebolnya bendungan. Pruttt! Pruttt! Pruttt!. Kepala kontol-ku terasa disemprot cairan nonok Dinda, bersamaan dengan pekikan Dinda, “…nyampee!”. Tubuh Dinda mengejang. “Dinda…!” aku melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuh Dinda sekuat-kuatnya. Wajahku aku benamkan di lehernya. Peju-ku pun tak terbendung lagi. Crottt! Crottt! Crottt!. Peju-ku bersemburan deras, menyemprot dinding nonok Dinda yang terdalam. Kontol-ku yang terbenam semua terasa berdenyut-denyut. Beberapa saat lamanya aku dan Dinda terdiam dalam keadaan berpelukan erat. Aku menghabiskan sisa-sisa peju. Cret! Cret! Cret!. Perlahan, tubuh Dinda maupun tubuhku tidak mengejang lagi. Aku menciumi leher mulus Dinda dengan lembut. Aku merasa puas sekali berhasil ngentotin Dinda. “Aku puas banget, Din. Kamu juga ya?” aku berbisik di telinganya. Dinda mengeratkan pelukannya, sambil mengelus punggungku. “Aku puas banget, Om. Aku janji, enggak akan bilang ke Rio,” katanya sambil tersenyum nakal. — Aku berhasil mengantarkan Dinda ke puncak kenikmatan dua kali, dan dia terlihat lebih puas daripada dengan pacarnya sendiri. Aku tahu, ini baru permulaan dari malam-malam panas yang akan kami jalani selama Rio tidak ada.

Baca Bersetubuh Dengan Pacar Anak Ku yang Cantik Dan Harum

4,554 views 1 bulan lalu

AIBokep Mirror menyediakan Bersetubuh Dengan Pacar Anak Ku yang Cantik Dan Harum dengan pengalaman baca yang optimal. interface modern.

Lihat juga: Strategi Memuaskan Tante Semok Adik Kandung Ibu, Cerita Dewasa Romantis Anak Dan Ayah Tiri Saat Ibunya Tidak Di Rumah, Bersetubuh Dengan Pacar Anak Ku yang Cantik Dan Harum.

Cerita berkualitas, 100% gratis di AIBokep Mirror.

Simpan Konten

Simpan untuk ditonton nanti dengan klik tombol bookmark.